Remaja asal Norwegia itu dilaporkan jatuh pingsan di kantin sekolahnya setelah main video game secara maraton. Sebelumnya, untuk mengusir kantuk, Henrik diketahui minum delapan liter minuman berenergi untuk membuatnya tetap terjaga. Demikian dikutip dari NY Daily News, Jumat (21/3/2014).
Dia lantas dibawa kerumah sakit di Lillehammer, dan mengalami koma karena gagal ginjal. Begitu Henrik terbaring di RS, petugas medis bergegas memasang selang infus dan respirator.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya waktu itu main Call of Duty. Lalu segalanya menjadi gelap dan saya pingsan," ucap Henrik setelah kondisinya mulai membaik. Demikian dilaporkan The Local.
"Ketika Terbangun saya sangat takut," imbuhnya.
Saat ini Henrik masih mengonsumsi obat-obatan untuk mengontrol tekanan darahnya. Henrik pun berharap dirinya segera sembuh.
Terkait dampak kebanyakan minuman berenergi, tiga peneliti gabungan dari University of Texas Health and Science Center dan University of Queensland ikut meneliti. Dr. John P. Higgins, salah satu dari peneliti, mengemukakan bahwa orang yang akhirnya meninggal ternyata masih berumur kurang dari 30 tahun. Ia menyesalkan peredaran minuman berenergi yang terlalu bebas dan dapat dibeli di manapun oleh siapapun. Dalam takaran normal memang sah-sah saja minuman berenergi dikonsumsi, namun jika berlebihan dampaknya tentu tidak baik.
"Remaja dan anak muda, baik atlet maupun bukan, dapat mengonsumsi minuman tersebut secara bebas. Padahal kami menemukan bahwa konsumsi secara terus menerus dapat menimbulkan efek serius di kemudian hari," papar dokter asal Houston ini.
Ia menambahkan efek yang dapat diakibatkan antara lain hipertensi, gangguan jantung, serta penurunan fungsi otak. Ia bahkan memberikan laporan beberapa kasus kematian yang terjadi akibat mengonsumsi minuman berenergi berlebihan.
Seorang pemuda berusia 28 tahun tewas setelah mengikuti lomba motocross akibat serangan jantung setelah sebelumnya meminum minuman berenergi. Pada kasus lain, atlet bola basket sekolah berusia 18 tahun meninggal setelah mengonsumsi 2 botol minuman serupa. Dr Higgins juga menyebutkan ada 4 orang pasiennya yang menderita bipolar disorder. Mereka mengaku sering mengonsumsi minuman berenergi sejak kecil.
Intinya, segala sesuatu yang berlebihan tidak baik bagi tubuh. Misalnya saja konsumsi gula dan garam. Dalam takaran terbatas, tidak membahayakan kesehatan. Akan tetapi jika dikonsumsi berlebihan, maka bisa membahayakan kesehatan. Karena itu perlu langkah bijak untuk mengonsumsi apapun, sebab pasti akan memberikan dampak di masa mendatang.
(vit/up)











































