Keliru Diagnosis, Bocah Ini Meninggal Sia-sia Karena Infeksi Langka

Keliru Diagnosis, Bocah Ini Meninggal Sia-sia Karena Infeksi Langka

- detikHealth
Rabu, 26 Mar 2014 09:31 WIB
Keliru Diagnosis, Bocah Ini Meninggal Sia-sia Karena Infeksi Langka
Oliver (dok: Daily mail)
Jakarta - Awalnya Oliver Hiscutt mengeluh tenggorokannya kesakitan. Ketika diperiksakan, sang dokter hanya memberinya resep Calpol, paracetamol yang dapat meredakan nyeri dan menyuruhnya pulang. Tak tahunya beberapa hari kemudian bocah ini meninggal dengan tragis karena infeksi langka.

Hari itu tanggal 21 September 2012, Oliver terbangun dari tidurnya dalam keadaan menangis. Sang ibu, Julie (35) mengatakan Oliver menunjuk ke mulutnya dan mengatakan sumber rasa sakitnya berasal dari situ.

"Ia juga terlihat berbeda tapi tidak terlihat lebih buruk dari demam biasa. Saat itu ia masih bisa makan, hanya saja tidak senormal biasanya," kisah Julie seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu (26/3/2014).

Julie pun menemukan ada ruam di perut putranya. Saat itulah ia dan suaminya, David (34) segera menelepon NHS Direct, salah satu layanan yang dimiliki National Health Service (NHS) Inggris, yang menyarankan mereka untuk memberi Oliver Calpol karena mereka menduga ini disebabkan oleh virus.

"Namun selama seminggu ia tampak makin berbeda. Ia berubah menjadi pendiam, tak seperti biasanya," keluh Julie.

Tiga hari berlalu, akhirnya Julie dan David membawa Oliver bertemu dokter langsung karena takut putra mereka terkena meningitis. Namun lagi-lagi si dokter hanya memberinya resep Calpol.

Karena kondisi Oliver malah makin memburuk dengan lidah yang memerah, ia pun dilarikan ke rumah sakit pada tanggal 30 September 2013. Awalnya tim dokter juga memberinya obat untuk peradangan tonsil (tonsilitis), akan tetapi belakangan mereka baru menyadari jika bocah berusia dua tahun ini terserang infeksi bakteri bernama Invasive Group A Streptococcus.

Antibiotik hanya bisa diberikan lewat infus namun Oliver berhasil menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Sempat dipulangkan, pada tanggal 5 Oktober 2013, kondisi Oliver kembali memburuk. Meski telah dilarikan ke bagian UGD Wythenshawe Hospital. Namun sebelum dokter sempat melakukan ultrasound ke tenggorokannya, Oliver keburu menghembuskan nafas terakhir.

Tim dokter menemukan Invasive Group A Strep menyebabkan tenggorokan Oliver mengalami 'abses retrofaringeal' yang memecah pembuluh darah di dalamnya. Sayangnya banyak dokter dokter anak, dokter umum, maupun dokter THT yang gagal mendeteksi gejala infeksi ini dan keliru mengenalinya dengan gejala penyakit lain, seperti tonsilitis.

Ketika dimintai keterangan, seorang pakar bernama Dr Andrew Camilleri mengatakan pendarahan parah akibat abses seperti yang dialami Oliver sebenarnya bukanlah kasus yang umum, bahkan langka. Ia pernah membaca ada satu kasus serupa di Afrika Selatan tapi belum pernah ada di Inggris.

Kasus ini pun memunculkan gagasan untuk membuat panduan bagi para dokter di Inggris agar dapat mengenali gejala Invasive Group A Streptococcus yang memang sangat sulit terdeteksi.

(lil/vit)

Berita Terkait