"Anak itu harus merasakan di-bully sebagai pengalaman hidup dia, namun di-bully yang bagaimana dulu," papar Rosliana Verauli,M.Psi kepada detikHealth usai acara peluncuran Kids Today Project oleh Rinso di SD Menteng 01, Menteng, Jakarta Pusat, dan ditulis Kamis (27/3/2014).
Psikolog yang akrab disapa Vera tersebut menyebutkan bahwa risiko di-bully ketika bermain dengan teman sebaya tentu saja ada. Akan tetapi, jika sebelumnya sudah dibekali pemahaman tentang harga diri serta tidak kekurangan kasih sayang dari rumah dan orang tua, tentunya tindakan bully tersebut tidak akan mempan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, jika anak sudah merasa bahwa dirinya berharga, tentunya dia akan menolak segala bentuk bullying yang merendahkan dirinya. Termasuk bullying fisik dan verbal. Psikolog anak senior dra Mayke S. Tedjasaputra, M.Si menambahkan bahwa pada pencegahan bullying ketika anak bermain, peran orang tua sangat penting.
Menurutnya sangat benar bahwa anak seharusnya diberikan waktu bermain di luar ruangan. Akan tetapi, orang tua harus tetap mengawasi. Sehingga anak tetap akan merasa diperhatikan dan merasa aman ketika bermain.
"Salah satu sebab anak di-bully kan karena orang tua tidak memperhatikan. Di sekolah di-bully, ketika main di-bully, eh di rumah didiamkan. Ya akan terus di-bully dia," ungkap psikolog yang akrab disapa Ibu Mayke itu.
Lalu bagaimana cara mengajari anak untuk melawan ketika di-bully? Vera punya jawaban unik. Menurutnya, salah satu cara agar anak dapat melawan ketika di-bully adalah dengan cara bermain gulat-gulatan dengan ayahnya.
"Sering-sering saja ajak anak main gulat-gulatan di kasur gitu. Nanti kan dia jadi terbiasa menangkis-nangkis kan, ha ha ha," kata Vera sambil tertawa.
(vit/vit)










































