Kendala itu membuat anak-anak penyandang autisme harus mendapat metode pengajaran tersendiri. Pengetahuan yang diberikan harus disuntikkan secara bertahap dan sangat perlahan. Kesabaran dalam mengajar merupakan harga mati bagi para pengajar anak penyandang autisme.
Hal tersebut dialami oleh Ana Nur Anis, guru kelas di sekolah khusus penyandang autisme, SLB Bina Anggita Yogyakarta. Bersama 23 orang guru lain, ia membina 48 siswa penyandang autisme di sekolah tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Datang ke sini itu tidak mau duduk, lari ke sana ke mari. Di sini guru bisa kejar-kejaran beneran," terang Nur sembari tertawa tipis. "Kalau satu guru menghadapi empat atau lima anak, ya, lari semua," tambahnya.
Itulah mengapa metode pendidikan di Bina Anggita menggunakan sistem one on one, di mana satu guru hanya menangani satu siswa. Masing-masing siswa mendapat materi pelajaran berbeda tergantung pada kemampuan dan perkembangannya. Dua siswa dapat ditangani satu guru hanya jika siswa tersebut menunjukkan perkembangan yang bagus.
"Pelajaran pertama itu hanya kontak mata dan duduk, duduk tenang. Soalnya mereka terus berlarian, satu ruangan dikelilingi, ke utara, ke selatan," ujar Nur ketika berbincang dengan detikHealth, seperti ditulis pada Kamis (3/4/2014).
Melakukan kontak mata dan duduk tenang pun, yang bagi orang biasa sangat mudah dilakukan, bukan merupakan hal mudah bagi anak autisme. Penyandang autisme yang bisa duduk tenang selama beberapa saat, kata Nur, adalah mereka yang telah dilatih selama bertahun-tahun.
Sayang, upaya Nur dan 23 guru lain terkadang menemui kendala. Salah satunya ialah ketika orang tua siswa melayangkan protes karena perkembangan buah hati dinilai lambat. Padahal menurut Nur, cepat atau lambatnya perkembangan anak tidak hanya dipengaruhi kemampuan guru saja, tetapi juga kemampuan anak, dukungan orang tua, dan faktor lain.
(vit/vit)










































