Peneliti di Cincinnati Children’s Hospital Medical Center mengatakan bahwa dengkuran yang sering dan keras pada anak bisa menjadi indikasi anak sedang menghadapi masalah seperti hiperaktif, kurang konsentrasi, atau depresi.
Dalam studinya, peneliti mengamati 249 anak dan data survei dikumpulkan dari ibu mereka tentang kebiasaan tidurnya. Studi ini menemukan anak usia 2-3 tahun yang mendengkur keras minimal dua kali seminggu memiliki lebih banyak masalah perilaku ketimbang anak seusianya yang tidak mendengkur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti mengatakan studi ini adalah yang pertama kali melihat hubungan antara mendengkur terus menerus dan masalah perilaku anak usia prasekolah. Oleh karena itu, dr Beebe menyarankan orang tua segera berkonsultasi pada dokter jika sang anak terus-terusan mendengkur.
"Jika dibiarkan saja anak mendengkur, masalah perilaku saat ia di sekolah nanti bisa memburuk. Temuan ini juga mendorong agar bayi bisa mendapat ASI ekslusif selama enam bulan," kata dr Beebe, demikian dikutip dari CNN, Selasa (8/4/2014).
Data penelitian menunjukkan sekitar satu dari sepuluh anak sering mendengkur dengan keras. dr Beebe mengatakan pada tayangan kartun mungkin dengkuran bisa dinilai sebagai sesuatu yang lucu. Tapi, ketika itu terjadi pada anak selama berbulan-bulan, selain masalah perilaku, anak juga bisa memiliki indikasi problem pernapasan.
Lebih lanjut, dr Beebe menyatakan mendengkur keras juga bisa mempengaruhi kualitas tidur anak-anak dan pertukaran udara yang buruk. Jika bagian otak yang mengontrol suasana hati tidak beristirahat dengan baik dan mendapat pertukaran oksigen yang tepat, maka akan menimbulkan perubahan sistem yang menyebabkan iritabilitas.
"Akibatnya, suasana hati dan perilaku anak bisa terganggu. Pencegahan kebiasaan mendengkur ini juga bisa dilakukan dengan pemberian ASI eksklusif yang memang memiliki manfaat besar dalam kehidupan pertama anak," pungkas dr Beebe.
(rdn/up)











































