Setidaknya, itulah yang diungkapkan seksolog, penulis, dan dosen senior di University of Sydney Dr Patricia Weerakon yang melakukan focus group discussion bersama murid kelas 9 dan 10, demikian dikutip dari ABC Australia, Selasa (29/4/2014).
"Mereka mengatakan hal-hal seperti apa gunanya sekolah menceritakan tentang rahim dan bagaimana bayi bisa ada di sana, kami tahu semua itu. Seseorang perlu memberitahu kami apa yang terjadi saat ereksi dan apa itu orgasme," tutur Weerakon menirukan apa yang diutarakan siswa-siwa peserta FGD.
Temuan FGD Weerakon sejalan dengan hasil survei yang digelar Australian Youth Alliance Coalition (AYAC) and Youth Empowerment Against HIV/AIDS, yang menemukan bahwa remaja merasa mendapat informasi memadai seputar anatomi tubuh dan reproduksi tapi mereka masih ingin informasi lebih lanjut.
Informasi lanjutan tersebut antara lain tentang seks, seks dan kesenangan, bagaimana mengakses layanan konselin untuk remaja, hubungan dengan lawan jenis yang sehat dan baik, serta kontrasespsi dan HIV. Dalam survei tersebut, partisipan usia 15-29 tahun juga ditanya di mana mereka mendapat informasi tentang seks dan kesehatan seksual.
Hasilnya, ada lima sumber yang dimanfaatkan mereka yaitu internet sebanyak 85%, teman 76%, majalah 72%, sekolah 69%, dan TV atau film sebanyak 67%. Hanya 65% partisipan yang membicarakan topik ini dengan orang tua mereka. Menanggapi hal ini, Wakil Direktur AYAC, Joshua Genner mengatakan survei tersebut menunjukkan perlunya pendidikan seks yang lebih baik bagi remaja saat ini.
"Jika anak tidak diberi pendidikan seks yang tepat serta penanaman nilai moral, keberhagaan diri, dan citra tubuh, bisa jadi mereka mencari sumber lain termasuk internet yang bisa merusak karena sumber tersebut idak peka dengan kebutuhan anak dan belum tentu informasinya sesuai dengan usia anak," papar Genner.
Apalagi, internet merupakan wadah besar di mana semua orang bisa ikut andil memberi informais beragam. Justru hal itu menurut Genner tidak memberikan penjelasan yang akurat pada anak dan malah menjerumuskan anak pada informasi yang salah.
(rdn/vta)










































