Seperti yang terjadi bada bocah kelas 5 SD bernama Renggo Kadafi. Ia meninggal dunia pada Sabtu (3/5) lalu setelah demam tinggi dan mengalami lebam pada tubuh serta bibir yang berdarah usai dipukuli kakak kelasnya yang berinisial S.
Menanggapi hal ini, psikolog anak Vera Itabiliana S.Psi dari Lembaga Psikologi Terapan UI mengatakan apa yang dilakukan anak sampai ia bertindak agresif dan melakukan kekerasan fisik tidak lepas dari apa yang ia pelajari di lingkungannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Vera mencontohkan bisa saja si anak biasa melihat orang tua atau orang di sekitarnya saat marah atau menyelesaikan masalah menggunakan cara fisik. Sehingga, tertanam dalam pikiran anak bahwa segala sesuatu bisa diselesaikan dengan fisik.
"Jadi anak bisa berpikir berarti boleh kalau dia lagi sebel atau nggak suka sama orang, dia melakukan kekerasan fisik karena yang dia lihat di kesehariannya seperti itu," imbuh Vera.
Menurut Vera, perlu diingat bahwa kesalahan yang dilakukan anak tak pernah lepas dari keseharian mereka. Termasuk bagaimana pola asuh yang diterapkan, misalnya orang tua cenderung menggunakan kekerasan saat anak dianggap melakukan keselahan.
Sementara itu, psikolog anak dan keluarga Roslina Verauli M.Psi menekankan pentingnya mengajari anak sejak dini untuk mengekspresikan emosinya melalui kata-kata, bukan melalui cara non verbal dan tantrum seperti mengamuk dan teriak-teriak.
"Kalau sejak dini orang tua biasa mengkomunikasikan apa yang dirasakan dengan anak, anak terbiasa mengungkapkan apa yang dirasakannya, bukan pakai emosi apalagi dengan fisik," kata wanita yang kerap disapa Vera ini.
(rdn/vit)











































