Anak Hiperaktif karena Makanan atau Tidak, Begini Cara Mendeteksinya

Anak Hiperaktif karena Makanan atau Tidak, Begini Cara Mendeteksinya

- detikHealth
Selasa, 06 Mei 2014 11:31 WIB
Anak Hiperaktif karena Makanan atau Tidak, Begini Cara Mendeteksinya
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Southampton, Inggris - Sejak peneliti menemukan bahwa makanan dapat mengakibatkan perubahan perilaku pada anak, makin banyak studi yang dilakukan untuk mencari tahu makanan seperti apa yang dimaksud. Yang dituding adalah gula dan zat aditif seperti pengawet atau pewarna makanan.

Namun sebuah studi yang dilakukan di University of Southampton, Inggris di tahun 2007 memastikan zat aditiflah yang menyebabkan anak-anak jadi makin hiperaktif.

Hal ini diperjelas dengan temuan ketua tim peneliti studi ini, Profesor Jim Stevenson bahwa pengurangan zat aditif pada makanan berdampak positif bagi anak penderita attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) atau yang akrab disebut hiperaktif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam risetnya, partisipan anak diberi salah satu dari dua jenis makanan yang mengandung pewarna buatan dan aditif, atau plasebo secara acak. Zat aditif yang diberikan antara lain pewarna kuning [E110], carmoisine [E122], tartrazine [E102], ponceau 4R [E124], quinoline yellow [E104] allura red AC [E129] dan pengawet sodium benzoate [E211].

Ternyata peneliti menemukan bahwa dampak zat aditif ini terhadap hiperaktivitas dua kelompok partisipan anak (kelompok pertama berusia tiga tahun dan kelompok kedua 8-9 tahun) terbilang kecil.

"Meskipun begitu, perlu dicatat adalah respons perilaku anak-anak ini sangat bervariasi. Bagi sebagian anak efeknya mungkin kecil, tapi bagi sebagian lainnya cukup substansial. Namun dari sini jelas, ada pengaruh antara zat aditif ini pada gejala hiperaktif anak," tutur Stevenson yang juga profesor emeritus bidang psikologi dari University of Southampton tersebut, seperti dikutip dari ABC Australia, Selasa (6/5/2014).

Lalu bagaimana memastikan anak hiperaktif atau tidak setelah mengonsumsi makanan tertentu? "Bila Anda memodifikasi pola makan anak, maka akan ada perubahan besar dalam perilakunya," tutur pakar imunologi, Profesor Rob Loblay dari Royal Prince Alfred Clinic, Sydney.

Jadi hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah tidak memberi anak makanan apapun yang dicurigai mengandung zat-zat berbahaya, misal selama dua sampai enam minggu.

"Lihat apakah gejalanya (hiperaktif) hilang atau tidak. Bila iya, itu berarti apa yang kita lakukan sudah benar. Lalu berikan lagi makanan yang dicurigai tadi, untuk memastikan makanan yang mana yang memicu munculnya gejala tersebut," sambungnya.

Kelakuan anak bisa dikatakan mulai tidak wajar dan mengarah ke ADHD jika sudah menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut:

1. Selalu memanjat, meski sudah dilarang.
2. Melakukan gerakan yang terus menerus, seperti menghentak-hentakkan kaki, tidak bisa duduk tanpa menggeliat, kaki tidak bisa diam serta selalu ingin berdiri dan bergerak.
3. Berlari dan bergerak sangat cepat, kadang sampai memicu cedera serius misalnya sampai dijahit, bahkan meski sudah dilarang-larang.
4. Khusus untuk umur 4 tahun, tidak bisa melompat hanya dengan satu kaki.
5. Tidak bisa akur dengan yang lain, sesekali menunjukkan sikap agresif sampai harus dipisahkan dari teman-temannya.
6. Lebih berisik dan teritakannya lebih keras dari teman-teman sepermainannya.
7. Sering berteman dengan orang asing, meski dengan sangat hati-hati.
8. Sangat sedikit memiliki rasa takut, yang kadang-kadang justru menempatkan anak tersebut dalam situasi berbahaya.
9. Tidak mampu fokus pada hsatu hal selama lebih dari beberapa menit tanpa merasa bosan.
10. Sulit mengikuti kegiatan yang membutuhkan perhatian, meski hanya untuk semenit atau 2 menit.



(lil/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads