"Angka kematian maternal (ibu) kita naik lagi dari yang tahun 90-an mencapai 300-an, targetnya 100-an, tapi di tahun 2012 kembali ke tahun 90-an, yaitu 359 kasus," papar dr Detty Siti Nurdiati, MPH., PhD, SpOG(K) dalam Seminar All About Kehamilan Remaja di Fakultas Kedokteran UGM dan ditulis Rabu (14/5/2014).
Kematian ibu adalah masalah pertama yang biasa dihadapi remaja yang 'terjebak' dalam kehamilan. Biasanya karena abortus atau pengguguran kandungan dengan metode yang tidak aman. Bahkan berdasarkan catatan SDKI (2012), jumlahnya mencapai 13 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dampak lain yang digarisbawahi oleh dr Detty adalah terkait dengan metode persalinan.
"Pinggul remaja itu kan masih berkembang sehingga (saat melahirkan) bayinya sulit lewat. Akibatnya persalinan jadi macet atau tidak maju dan harus dioperasi. Kalau dipaksakan (alami), robekan jalan lahir akan (melebar) sampai anus," ungkap dr Detty.
Pada akhirnya robekan jalan lahir tadi berakibat pada gangguan lain seperti pipis yang susah ditahan, buang air besar lewat vagina, hingga risiko infeksi panggul yang bisa menjalar sampai ke indung telur dan mengakibatkan si pasien tak bisa punya anak lagi.
Dalam kesempatan yang sama, dr Mei Neni Sitaresmi, PhD., SpA(K) juga menambahkan ibu remaja jelas belum siap merawat anak dan tak dapat memberikan stimulasi.
"Kalau belum bisa memberikan ASI, bayinya rentan kena gangguan pertumbuhan atau mudah infeksi. Tapi kalau tidak dapat menstimulasi, anak bisa tumbuh dengan gangguan bicara atau memperburuk gejala autis yang mungkin sudah ada," tuturnya.
Sedangkan untuk dampak psikisnya, psikolog dari UGM, Dra Yayi Suryo Prabandari, MSc, PhD., mengatakan remaja yang mengandung biasanya mengalami tekanan emosional, malu, depresi, dan kemungkinan besar tak bisa melanjutkan sekolah.











































