Penelitian terbaru dari dari Amerika membuktikan hal tersebut. Ketua tim peneliti William Copeland mengatakan bahwa anak-anak yang dibully lebih sering sakit daripada anak-anak sebayanya. Sakitnya pun bermacam-macam mulai dari sakit perut, sulit tidur, sakit kepala, hingga kehilangan nafsu makan.
"Kami sangat percaya bahwa hal-hal tersebut merupakan efek dari bullying," tutur William yang berasal dari Duke University School of Medicine, Durham, North Carolina seperti dilansir Reuters, Rabu (14/5/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada sampel darah partisipan, peneliti mengukur kadar protein C-reactive untuk melihat sejauh mana peradangan yang terjadi di dalam tubuh. William mengatakan bahwa protein ini sangat terpengaruhi oleh kadar stres, faktor psikologis dan pengaruh lingkungan lainnya seperti kekurangan tidur.
Hasilnya menunjukkan bahwa pada anak yang sering mengalami bullying, kadar protein C-reactivenya sangat tinggi, sehingga risiko peradangan yang terjadi di tubuh semakin besar. William menambahkan bahwa protein C-reactive yang besar merupakan salah satu pertanda adanya kanker.
"Peradangan yang terjadi akibat hal-hal buruk saat ini bisa saja mempunyai hubungan dengan kondisi kesehatan ketika tua nanti," sambung William lagi.
Sayangnya peneliti belum bisa membuktikan bahwa anak-anak yang sering dibully lebih berisiko mengalami penyakit serius ketika tua. Untuk membuktikan hal tersebut tentunya peneliti harus menunggu partisipan berumur 40 atau 50 tahun.
Penelitian ini dipublikasikan di jurnal PNAS.











































