Pendidikan Seks Bisa Diberikan Sejak Anak Masih di Kandungan Lho

Pendidikan Seks Bisa Diberikan Sejak Anak Masih di Kandungan Lho

- detikHealth
Rabu, 14 Mei 2014 11:31 WIB
Pendidikan Seks Bisa Diberikan Sejak Anak Masih di Kandungan Lho
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Yogyakarta - Hampir setiap orang tua tentu prihatin bila melihat makin banyak kasus remaja hamil di luar nikah akibat pergaulan yang menjerumuskan mereka pada seks bebas. Lalu sejak kapan orang tua harus turun tangan untuk mencegahnya?

"Pendidikan seksual itu seharusnya diberikan sejak kehamilan umur enam minggu. Karena apa, susunan saraf bayi yang besarnya belum sekelingking jari itu sudah bisa menangkap impuls-impuls yang diberikan dari ibu," kata Prof. dr. Djaswadi Dasuki, SpOG(K) dalam Seminar All About Kehamilan Remaja di Fakultas Kedokteran UGM, dan ditulis pada Rabu (14/5/2014).

Prof Djaswadi menambahkan bukan suatu hal yang mengesankan bila ada anak umur dua-tiga tahun sudah bisa bermain instrumen musik tertentu atau hafal Juz Amma. "Karena begitu luar biasanya Tuhan menciptakan kemampuan untuk merekam impuls mereka sejak berusia enam minggu," tegasnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan dasar itu, artinya si kecil yang masih berada dalam kandungan sudah bisa diajari tentang pendidikan seksual. Caranya antara lain ibu rutin membaca buku tentang pendidikan seks atau menyaksikan video edukasi khusus agar si jabang bayi ikut 'menyimak'.

Selain itu, dokter kandungan yang berpraktik di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta tersebut menekankan bahwa orang tua yang menginginkan bayi mereka lahir dalam keadaan sehat dan cerdas sudah tidak bisa lagi hanya memperhatikan 'antenatal care' atau pemeriksaan kondisi ibu selama masa kehamilan saja, melainkan sejak 'pre-conception' atau sebelum kehamilan terjadi.

"Kalau care-nya baru dilakukan ketika sudah terjadi kehamilan, itu sudah terlambat. Makanya kalau membuat anak, harus direncanakan kehamilannya dan jangan coba-coba," imbuh Prof Djaswadi. Tak mengherankan bila Prof Djaswadi memaparkan remaja yang terjebak dalam 'teen pregnancy' biasanya mengalami gangguan pada kehamilan, entah pada sang ibu maupun janin yang dikandungnya.

Dalam kesempatan yang sama, kolega Prof Djaswadi, dr Mei Neni Sitaresmi, PhD, SpA(K) mengatakan wajar bila remaja rentan untuk mencoba-coba melakukan sesuatu yang belum pantas dilakukannya, seperti hubungan seksual.

"Ini karena ketika memasuki masa puber, mereka cenderung impulsif. Artinya respons mereka lebih cepat dari simulasinya, ingin coba-coba tapi kurang bisa mengontrol emosinya. Agar tidak mencoba-coba, kita bisa memanfaatkan peer-group-nya untuk memberikan pengertian," terang dokter anak yang berjilbab tersebut.

'Belajar kelompok' ini sendiri dapat disiasati dengan beberapa cara, misal untuk remaja usia awal, peserta dipisah berdasarkan jenis kelamin; sedangkan untuk remaja usia akhir, peserta bisa digabung namun penyampaian materinya harus disesuaikan dengan kultur masing-masing.

Menanggapi dr Mei, psikolog Dra Yayi Suryo Prabandari, MSc, PhD., menambahkan, anak dan remaja dapat dihindarkan dari perilaku berisiko seperti seks maupun mengonsumsi narkoba dan alkohol dengan cara, antara lain:

1. Ajak anak untuk berpikir positif tentang diri mereka sendiri, terutama untuk menerima kelebihan dan kekurangannya
2. Mengisi waktu luang dengan bakat dan minat. "Kalau ortu sibuk, anak juga harus disibukkan, tapi dengan sesuatu yang positif ya," tegas Yayi.
3. Orang tua belajar jadi teman untuk si anak
4. Kenalkan pada anak saat yang berbahaya seperti ketika pesta tanpa ada orang dewasa, pacaran berduaan, atau ditantang terkait kedewasaan
5. Ajarkan anak untuk bilang TIDAK terhadap tawaran rokok, narkoba dan seks, namun yang singkat, sopan tapi tegas. Latih agar anak mengatakan secara berulang agar meyakinkan si pengajak.

Lagipula Prof Djaswadi juga mengingatkan, selain menyumbang makin tingginya kasus kehamilan remaja, remaja berusia 15-24 tahun juga berkontribusi besar terhadap peningkatan kasus penyakit menular seksual dan HIV-AIDS di kalangan generasi muda. Untuk itu pendidikan seks dirasa penting untuk diberikan sejak dini kepada mereka.



(lil/vit)

Berita Terkait