"Biasanya orang dewasa bisa lebih cepat menyesuaikan diri karena disibukkan oleh rutinitas harian dan juga sudah mempertimbangkan masak-masak keputusan yang akan diambil," kata Alzena Masykouri M.Psi, psikolog anak dan remaja dari Klinik Tumbuh Kembang Kancil, seperti ditulis Selasa (9/6/2014).
Oleh karena itulah mengapa remaja cenderung lebih rentan galau ketika mereka memiliki masalah dalam urusan asmara. Pada dasarnya, dikatakan Zena, begitu ia karab disapa, usia remaja dimulai saat seseorang berusia 13-18 tahun.
Nah, makin dewasa diharapkan kemampuan kognitif remaja bisa mengimbangi dan membantu mereka dalam mengambil keputusan yang rasional sehingga bisa mengarahkan dirinya dalam aktivitas yang positif.
Meski galau rentan dialami remaja, Zena memastikan sejak awal orang tua pun bisa melakukan tindakan preventif agar putra putrinya tidak terlalu galau saat mereka putus cinta.
"Sejak awal orang tua memiliki tugas mendampingi dan menerima kondisi anak, bukan menasihati sehingga bisa menyebabkan remaja makin terpuruk dengan keadaannya, yaitu galau setelah putus cinta," tegas lulusan fakultas psikologi UI ini.
Jadi, dikatakan Zena tindakan preventif yang bisa dilakukan adalah orang tua berusaha menjadi teman terpercaya bagi anaknya dan langkah ini harus dimulai dari usia dini. Caranya beragam seperti membiasakan bertanya pada anak bagaimana keseharian mereka, apa yang dialami anak, dan bagaimana pergaulan mereka.
Dengan terbiasa bercerita dengan orang tua sejak kecil, ketika remaja dan mulai tertarik dengan lawan jenispun mereka bisa berbagi dengan orang tuanya. Sehingga, saat timbul galau, orang tua bisa membantu agar anak tak galau berlarut-larut.
(rdn/up)











































