"Anak-anak dengan autisme diduga memiliki leaky gut atau sistem pencernaan yang bocor sehingga tidak dapat memecah protein gluten dengan baik," papar Dr dr Iris Rengganis, SpPD, K-AI, FINASIM.
Hal tersebut ia ungkapkan saat ditemui dalam jumpa pers Tropicana Slim Alergon: 'Is Gluten Free a Healthy Choice?', yang diselenggarakan di Restoran Bunga Rampai, Jl Teuku Cik Ditiro, seperti ditulis Kamis (26/6/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data penelitian menunjukkan bahwa diet bebas glutan dan kasein merupakan salah satu diet yang paling banyak diikuti.
"Sekitar 65 persen dari orang tua anak dengan autisme yang mengikuti diet ini melaporkan adanya perbaikan kondisi pada anak mereka, meskipun memang bukti ilmiah yang ada masih kurang memadai," pungkas dr Iris.
Oleh sebab itu, dr Iris berpesan pada orang tua yang memiliki anak dengan autisme untuk memulai penerapan diet bebas gluten. Gluten merupakan protein yang terdapat pada tepung terigu dan olahannya, termasuk biskuit, mi, roti, gandum, donat dan sereal. Senyawa ini secara alami juga terdapat pada biji-bijian seperti gandum, barley dan gandum hitam (rye).
"Hindari konsumsi makanan yang mengandung gluten seperti pasta, roti, kue, mi, makanan ringan daging olahan. Sebaliknya, pilihlah produk yang tidak mengandung gluten seperti yang berbahan beras, kedelai, kentang dan tepung jagung," pesannya.
(ajg/up)











































