Upacara kelulusan menjadi puncak perayaan siswa ketika dinyatakan lulus sekolah. Akan tetapi, gadis dilarang sekolah untuk mengikuti upacara kelulusan, dan akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.
Abrielle Kira Bartels adalah siswi kelas 8 di Milton Hershey School, sebuah sekolah swasta terkenal yang berada di Hershey negara bagian Pennsylvania. Sejatinya Abbie, begitu ia biasa dipanggil, sudah dinyatakan lulus kelas 8 dan akan naik ke tingkat 9 di sekolah tersebut.
Akan tetapi karena mempunyai riwayat pernah dirawat di rumah sakit gangguan jiwa, pihak sekolah melarang Abbie untuk hadir di acara yang sangat dinantikannya. 8 Hari kemudian, Abbie tewas gantung diri di lemari pakaian di rumahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, Julie mengakui bahwa Abbie tumbuh di lingkungan yang tidak baik bagi remaja seusianya. Abbie tinggal bersama ayah kandungnya yang alkoholik setelah Julie bercerai dengannya. Di rumah tersebut, Abbie tinggal bersama saudara laki-lakinya beserta ibu dan kakek tiri.
Perceraian orang tua dan ayah yang mudah marah dan alkoholik membuat Abbie memiliki gejala depresi. Hal itu ditunjukkan oleh catatan perilaku agresif yang dimiliki sekolah. Sempat beberapa kali menyerang siswa lain dan mengancam akan bunuh diri, Abbie akhirnya dimasukkan ke institusi gangguan jiwa bagi remaja oleh sekolah.
"Abbie mengikuti seluruh kemauan sekolah. Karena dia sangat mencintai sekolah itu dan menganggapnya sebagai rumah kedua. Jika ia tak mengikuti pelatihan di institusi gangguan jiwa tersebut, beasiswanya akan dicabut dan ia tak menginginkan itu," urai Julie lagi.
CNN melaporkan bahwa berdasarkan catatan sekolah, Abbie sudah tinggal di asrama sekolah dan mengenyam pendidikan dasar di sekolah tersebut sejak usia 5 tahun. Itu berarti sudah 9 tahun Abbie belajar dan tinggal di sekolah tersebut, waktu yang cukup bagi remaja untuk merasa terikat.
Setelah akhirnya mengikuti pelatihan selama sebulan, Abbie dinyatakan psikolog sekolah sudah menunjukkan kemajuan ke arah yang lebih baik. Ia pun sangat menantikan upacara kelulusan tersebut. Hal ini dibuktikan dengan berbagai kartu ucapan yang sudah disiapkannya untuk teman-teman seangkatannya.
Akan tetapi satu hari menjelang hari upacara, Karen Fitzsimmons, ibu tiri Abbie, mendapat pemberitahuan dari pihak sekolah. Pemberitahuan tersebut mengatakan bahwa Abbie tidak diperkenankan menghadiri upacara kelulusan sekolah tersebut, walaupun hanya sebagai penonton.
"Ketika aku menyampaikan kabar tersebut kepadanya, Abbie terlihat sangat shock. Ia merasa hancur. Upacara kelulusan sekolah adalah hal yang paling dinantinya semenjak ia masuk ke pelatihan di institusi gangguan kejiwaan sekolah," ungkap Karen.
Dalam pemberitahuannya, pihak sekolah mengatakan bahwa sebagai bentuk tanggung jawab sekolah kepada keamanan siswa lain, mereka tidak mengizinkan adanya siswa yang pernah masuk ke institusi mental untuk menghadiri upcara kelulusan. Alasannya, keberadaan Abbie dianggap membahayakan keselamatan siswa lain.
Tak sanggup menghadapi kenyataan bahwa sekolah yang sudah dianggapnya sebagai rumah kedua menolaknya, Abbie pun gantung diri lemari pakaian di kamarnya. Atas hal itu, keluarga pun mengajukan tuntutan kepada sekolah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian Abbie.
"Aku tak habis pikir. Aku benar-benar marah. Aku katakan pada mereka bahwa mereka bodoh dan tidak bertindak sebagaimana institusi pendidikan seharusnya bertindak," pungkas Julie.
(up/up)











































