Testis si Kecil Turun Sebelah, Sudah Pasti Cacat Bawaan?

Testis si Kecil Turun Sebelah, Sudah Pasti Cacat Bawaan?

- detikHealth
Jumat, 04 Jul 2014 19:30 WIB
Testis si Kecil Turun Sebelah, Sudah Pasti Cacat Bawaan?
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Meskipun jarang, keadaan testis yang tidak turun pada bayi laki-laki sehingga ia terlihat hanya memiliki satu testis bisa saja terjadi. Tak pelak, orang tua pun khawatir jikalau hal tersebut merupakan cacat bawaan yang bisa membuat si kecil tak bisa memiliki keturunan nantinya.

Menanggapi hal ini, dr Marissa Pudjiadi SpA dari RS Premiere Jatinegara mengatakan dalam keadaan normal, testis bayi laki-laki akan mengalami penurunan dari dalam rongga perut ke kantong zakar. Sehingga, sata lahir kedua testis sudah ada di kantong zakar.

"Belum turunnya testis yang disebut undescended testis atau kriptokismus adalah kelainan yang cukup sering ditemui pada 5% bayi yang lahir cukup bulan dan 20-30% bayi prematur," kata dr Marissa seperti dikutip dari buku '250 Tanya Jawab Kesehatan Anak', Jumat (4/7/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dr Marissa, kondisi ini bisa terjadi akibat faktor hormonal, mekanik, dan anatomis meskipun belum diketahui penyebab pastinya. Kriptorkismus bisa terjadi pada satu testis saja bahkan keduanya. Hal yang perlu dilakukan saat mengetahui kondisi ini yakni memastikan posisi testis.

Nantinya, dokter akan melihat apakah testis masih berada di jalurnya. Bila tidak di jalurnya, dapat dilakukan terapi hormonal dan jika tidak berhasil harus dilakukan tindakan bedah. Tapi kalau testis ada di jalurnya dan belum ada kantong zakar, umumnya penurunan spontan masih bisa ditunggu sampai anak berusia 9 bulan.

"Biasanya juga ada intervensi yang dilakukan untuk mengurangi risiko infertilitas, munculnya keganasan pada testis, kemungkinan testis terpelintir, dan mencegah timbulnya masalah psikologis pada anak," imbuh dr Marissa.
 
Ia menambahkan, menurut penelitian, jika testis bisa diturunkan sebelum usia dua tahun, fertilitas si anak bisa dipertahankan sampai 87%. Sebaliknya, jika dibiarkan semakin lama, risiko infertilitas pun makin besar.

(rdn/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads