Dikatakan keluarga Saneie atau pengantin wanita, Helen Shabangu, pernikahan ini hanyalah sebuah ritual yang menjadi bagian dari tradisi mengingat nenek moyang Saneie berwasiat bocah SD tersebut agar menikah tahun lalu.
Dalam video yang diunggah ke Youtube dan dikutip pada Selasa (22/7/2014), Helen yang sehari-harinya bekerja sebagai pegawai daur ulang merasa terhormat bisa 'menikah' dengan Saneie dan membuat nenek moyangnya bahagia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam video pernikahan tersebut hadir pula suami Helen, Alfred Shabangu (66) bersama kelima anak Helen. Mereka mengaku tak masalah jika Helen menjadi bagian dari ritual pernikahan Saneie. Dikatakan ibu Saneie, Patience Masilela, setelah pernikahan putra bungusnya banyak yang bertanya apakah Saneie dan Helen akan hidup bersama, tidur bersama, bahkan berencana mempunyai bayi.
Tapi Patience menegaskan setelah pernikahan semuanya kembali normal, bahkan Saneie akan kembali sekolah dan belajar dengan giat. Meskipun, seperti diketahui pernikahan dini bisa berpengaruh pada pengantin pria atau wanitanya yang terlalu muda.
Seperti dikatakan Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN, Dr Sudibyo Alimoeso, MA pernikahan dini berkaitan dengan angka kematian ibu maupun bayi
"Sebab hamil di usia terlalu muda selalu ada kecenderungan risiko tinggi. Kualitas anak yang dihasilkan pun biasanya memiliki berat badan rendah sebab ibunya masih dalam masa pertumbuhan sementara bayinya juga butuh nutrisi," kata Soedibyo.
"Usia suami atau istri yang terlalu muda juga memengaruhi psikis ketika berumah tangga nanti dan kesiapan mereka ketika akan mempunyai anak. Biasanya, pengambilan keputusan ketika si istri akan melahirkan masih banyak dipengaruhi keluarga atau orang tua," kata Wamenkes Prof Dr Ali Ghufron beberapa waktu lalu.
(rdn/up)











































