Kualitas Guru Masih Kurang, Masalah Utama PAUD di Indonesia

ADVERTISEMENT

Kualitas Guru Masih Kurang, Masalah Utama PAUD di Indonesia

- detikHealth
Rabu, 06 Agu 2014 17:45 WIB
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Dalam pendidikan, guru adalah seorang pendidik dan pengajar yang memegang peran penting dalam membimbing murid-muridnya memperoleh ilmu yang dibutuhkan. Terlebih pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), peran guru menjadi sangat krusial karena otak anak pada usia itu sangat sensitif terhadap stimulasi.

Berkaitan dengan hal tersebut sayangnya guru-guru PAUD di Indonesia belum semuanya memiliki pengetahuan dan kompetensi yang terstandar. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Prof dr Fasli Jalal, SpGK, PHd, mengatakan guru PAUD di Indonesia banyak yang latar belakang pendidikannya kurang memadai.

"Guru-guru kita di PAUD sebagian besar itu masih lulusan SMP (Sekolah Menengah Pertama), SMA (Sekolah Menengah Atas), dan paling-paling ada yang diploma 2. Diploma 2 PG (Pendidikan Guru) TK, PG PAUD, dan PG SD. Jadi belum begitu dalam lah," Kata Fasli, ditemui saat konferensi pers menyambut konferensi internasional PAUD di gedung BKKBN, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (6/8/2014).

Menurut Fasli, seorang guru PAUD sebetulnya diharapkan memiliki ilmu yang cukup mengenai pendekatan psikologis dan pedagogis dalam mendidik anak.

"Ini kita masih bermasalah karena sebagian besar guru kita belum S1. Tapi daripada tidak ada sama sekali, Kemendikbud memberikan pelatihan-pelatihan pada mereka sambil memberikan beasiswa," ujar Fasli.

Berkaitan dengan hal tersebut, Indonesia yang terpilih menjadi tuan rumah konferensi internasional PAUD ke 15 atau Pacific Early Childhood Education Research Association (PECERA) diharapkan oleh Fasli dapat berguna demi ilmu PAUD di Indonesia.

PECERA yang diadakan pada 8 hingga 10 agustus 2014 di Grand Inna Bali Hotel, Bali, rencananya akan dihadiri oleh 500 orang terdiri dari kementerian dan lembaga terkait anak, peneliti indonesia, serta peneliti luar negeri se-Asia Pasifik.

"Nanti hasil penelitian itu akan diserap dijadikan bahan untuk memperbaiki sistem pembelajaran di sekolah-sekolah. Baik di yayasan maupun di sekolah pemerintah, dan juga untuk perbaikan kebijakan dari pemerintah daerah juga negara," tutup Fasli.

(up/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT