"Ketika orang tua berhasil menemukan potensi anak, anak bisa terbantu untuk meraih cita-citanya. Nah, saat anak punya cita-cita ia akan fokus dengan tujuannya itu sehingga lebih mudah untuk terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan," terang praktisi multiple intelligence dan holistic learning, Ayah Edi.
Justru sebaliknya, ketika orang tua tidak mendukung cita-cita anak atau dengan kata lain memaksakan kehendaknya pada mereka, anak justru bisa berontak dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya saja menggunakan narkoba, mabuk-mabukan, dan seks bebas sebagai bentuk pelampiasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain mendukung cita-cita anak, orang tua perlu memberikan pendidikan seks usia dini pada anak. Dalam proses ini, fungsi otak kanan dan kiri sangat diperlukan. Di mana otak kanan identik dengan kreativitas dan imajinasi sedangkan otak kiri dengan logika seperti angka dan huruf.
Namun, tak bisa dilupakan untuk menjaga keseimbangan fungsi otak kanan dan kiri, ada peran otak tengah dan korteks otak. Meskipun saat anak lahir, otak kananlah yang mendominasi kemampuannya, demikian dikatakan pakar neurosains terapan, dr Anne Gracia.
"Usia 4-5 tahun baru terjadi perkembangan otak kiri. Bagian otak tengah yang berkaitan dengan hormon dan emosi membantu memudahkan penggunaan otak kiri lalu digiring untuk menggunakan otak kanan. Bagian ini bisa dilatih dengan mengatur bagian depan otak yang lokasinya ada di atas mata," terang dr Anne.
Melatih otak tengah bisa dilakukan dengan hal-hal sederhana yakni mengenalkan emosi dan respons disiplin. Coba kenalkan emosi senang tidak senang, suka tidak suka. Kemudian respons disiplin mulai dari kegiatan harian seperti mandi, tidur, kebersihan diri, disiplin waktu.
Dengan begitu, dikatakan dr Anne otak bagian tengah akan lebih mudah untuk mengendalikan penggiringan penggunaan otak bagian kiri atau kanan. Ayah Edi mengatakan, ketika anak melihat gambar porno dan otak kanannya yang bekerja, maka akan timbul rangsangan seksual. Sebaliknya, ketika ia menggunakan otak kiri, gambar porno bisa dilihat sebagai anatomi dan menjadi hal yang wajar.
"Inilah yang disebut dengan left brain response di mana ketika mengajarkan anak hal-hal yang bersifat porno dan berbau seksual, usahakan anak menggunakan otak kirinya sehingga ia paham yang dilihat adalah bagian anatomi tubuh, bukan justru menimbulkan rangsangan seksual padanya," tutur Ayah Edi.











































