Breathe Arts Health Research yang berbasis di London merupakan sebuah institusi yang menggagas Breathe Magic Summer Camp untuk anak-anak penderita hemiplegia. Ini adalah salah satu bentuk cerebral palsy di mana penderita mengalami paralysis atau kelumpuhan di salah satu sisi tubuh mereka.
Kebanyakan anak-anak hemiplegia kesusahan melakukan aktivitas sehari-hari seperti memegang sendok atau mengikat tali sepatu. Namun terapi konvensional dirasa sungguh membosankan sehingga banyak penderita hemiplegia justru tidak berkembang atau tidak sembuh sama sekali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di 'perkemahan' sulap yang digelar di London ini, anak-anak dengan hemipeglia diajari untuk mengaktifkan gerak tangan mereka dengan cara mempelajari trik-trik sulap langsung dari pesulap-pesulap yang sebenarnya. Dengan sulap, mereka belajar merenggangkan kedua tangan, berikut jari-jari mereka.
Setelah belajar, mereka akan dilatih sampai benar-benar bisa mempraktikkannya sendiri. "Sulap ternyata merupakan cara yang memotivasi sekaligus menginspirasi bagi mereka, untuk membantu memperkuat kemampuan kedua tangan mereka," imbuh Moore.
Manfaatnya pun langsung dirasakan oleh Angel. Ibunya, Sumira mengatakan bahwa perkemahan sulap ini memberi anaknya kepercayaan diri yang tinggi.
"Sebelumnya ia hanya pakai tangan kiri, tapi sekarang ia begitu percaya diri ketika menggunakan kedua tangannya, misal untuk mengikat tali sepatunya sendiri. Dari hal-hal sepele seperti itu, saya justru melihat perbedaan yang begitu besar," ujar Sumira bangga.
Di samping seru dan menyenangkan, tim peneliti dari Guy's Hospital, King's College Hospital, King's College London dan Oxford Brookes University berhasil mengungkap manfaat dari perkemahan sulap ini bagi anak-anak dengan hemiplegia.
Setelah mengamati otak partisipan dengan berbagai jenis tes selama mengikuti perkemahan ini, hasilnya sungguh di luar dugaan. "Sebelum ikut perkemahan, mereka cenderung jarang memakai tangan yang lemah untuk beraktivitas. Tapi setelah kembali dari perkemahan ini, mereka dapat melakukan apapun secara mandiri, 90 persen dengan kedua tangannya," ungkap salah satu peneliti, Dr Dido Green dari Breathe Arts Health Research and Reader in Rehabilitation, Oxford Brookes University.
Tiga bulan ke depan, hasilnya tetap sama. Pada akhirnya mereka semakin sering menggunakan kedua tangan untuk melakukan sesuatu.
"Dari hasil evaluasi terhadap perkemahan ini juga terlihat terapi sulap ternyata memberikan dampak besar terhadap kemandirian si anak dalam kehidupan sehari-hari. Baik ketika belajar hingga membiasakan diri menggunakan atau melakukan hal-hal sepele seperti memakai peralatan makan," sambungnya.
(iva/up)











































