Sebelum peristiwa nahas itu terjadi pada Selasa (19/8) lalu, Riley sempat memposting tulisan di akun facebooknya. Ia mengatakan 'Di depan kaca, aku adalah Jessica tetapi pikiran dan hatiku adalah Riley. Aku terlihat sebagai orang yang paling bahagia di sekolah padahal aku terpenjara dalam tubuhku sendiri,'.
Dikatakan ibu Riley, Kristine Moscatel, saat Riley berusia 3 tahun ia pergi ke kamar mandi lalu menggunting rambutnya. Ketika ditanya sang ibu, Riley mengaku ingin menjadi lelaki seperti teman lelakinya di day care. Sayang, Kristine dan suaminya Rich Moscatel tak menyadari ada kejanggalan pada putrinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Rich mengatakan depresi yang dirasakan Jessica berkaitan juga dengan hubungan asmara, kehidupan sekolah, dan keinginannya melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Namun, Jessica sangat pintar menutupi depresi yang tengah ia alami.
Hari Selasa pukul 00.30, Jessica sempat memanggil ibunya karena ada mesin pencuci piring yang baru dikirim. Tak lama, ia pun keluar dan menaruh kunci di bawah keset. Hanya selang beberapa menit, Rich dan Kristine diberi tahu polisi bahwa putrinya meninggal tertabrak kereta.
"Selama ini ia selalu tertawa bersama kami, perilakunya tidak ada yang aneh. Tapi malam itu ketika ia pergi meninggalkan rumah, ternyata ia akan pergi selama-lamanya," sesal Rich.
Menurut Andrew Spiers, koordinator TransHealth Information Projec, studi National Gay and Lesbian Task Force and National Center for Transgender Equality tahun 2011 menemukan orang-orang transgender 41% lebih rentan mengalami depresi dan bunuh diri.
"Untuk itu bagi orang tua dengan anak yang memutuskan untuk menjadi transgender, selalu awasi mereka dan berbicaralah dengan mereka. Pastikan kondisi psikis mereka baik-baik saja sehingga depresi dan keinginan untuk bunuh diri bisa diminimalisir," tegas Spiers.
(rdn/up)











































