"Efek penyakit yang paling langsung bisa dibilang ada diare. Jika diamati dari hasil riset kesehatan dasar Kemenkes, diare juga masih bersaing dengan ISPA untuk menjadi pembunuh nomor 1 balita," ungkap dr Candra Wijaya, Health Team Leader World Vision Indonesia.
Hal tersebut ia ungkapkan usai terlibat dalam diskusi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Hotel Cipta, Jakarta, Selasa (2/9/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilanjutkan dr Candra, faktor risiko yang paling mungkin menyebabkan diare dan ISPA adalah buruknya lingkungan di sekitar si anak. Selain itu, masih buruknya perilaku hidup sehat orang tua dan lingkungan sekitar juga memberi pengaruh besar.
"Oleh sebab itu kunci utama mengatasi masalah sanitasi adalah perubahan perilaku. Kalau cuma obatin diarenya atau kuratif, ya kita akan ketinggalan. Masalah itu akan terus-menerus muncul," terang dr Candra.
Pesan dr Candra, selalu biasakan untuk memulai perilaku bersih dan sehat sejak dini. Hindari buang air besar sembarangan dan biasakan untuk rajin cuci tangan dengan sabun.
"Upaya promotif dan preventif sangat gampang. Jangan buang air besar sembarangan supaya lalat tidak kemana-mana. Cuci tangan pakai sabun juga. Olah juga makanan dengan baik, jangan biarkan anak jajan sembarangan," pesan dr Candra.
(ajg/up)










































