Jakarta -
Jangan jadikan rasa canggung sebagai alasan untuk tidak membicarakan masalah seksual pada anak. Jika tidak dibicarakan, dengan keingintahuan yang besar anak cenderung akan mencari informasi di luar yang belum pasti kebenarannya.
Sumber yang dimaksud misalnya saja buku atau internet yang bisa saja membuat anak makin bingung atau menelusuri lebih jauh lagi segala hal tentang seksualitas tanpa pengawasan orang tua.
Dikutip dari berbagai sumber pada Kamis (4/9/2014), berikut adalah tips cara berbicara masalah seks pada anak yang baik:
1. Gunakan istilah yang benar
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Mungkin beberapa orang tua akan tergoda untuk menggunakan istilah pengganti ketika mengacu pada alat kelamin dengan tujuan memperhalus. Akan tetapi ketika orang tua mengajarkan kepada anak istilah yang salah untuk bagian tubuh, mereka akan belajar untuk merasa malu pada organ tersebut dan mendapatkan kesan bahwa daerah tersebut kotor atau buruk.
Terlebih bila anak menjadi korban bullying akibat lemahnya kosakata terkait kelamin, anak dapat kehilangan kepercayaan pada orang tua. Gunakan kata penis dan vagina sejak hari pertama.
2. Bicara hal positif
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Sekali lagi orang tua mungkin juga akan tergoda menggambarkan seks seperti suatu hal yang menyeramkan. Alasannya karena orang tua tidak ingin anak menjelajahi sisi seksual mereka sebelum matang secara emosional dan fisik. Pesan tersebut namun dapat terus menempel di pikiran anak dan memengaruhi cara pandang mereka melihat seksualitas saat beranjak dewasa kemudian.
Buat pembicaraan mengenai seks positif dan menginspirasi, namun tetap jujur terkait peringatannya. Sebagai contoh: "Seks menyenangkan, tapi sebaiknya dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai. Seks memiliki banyak risiko sehingga kamu harus menunggu dan memastikan dulu pasangan kamu sampai yakin seratus persen."
3. Bicara terbuka dan jujur
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Ayah khususnya merasa memiliki kewajiban untuk menjaga seksualitas anak perempuannya. Masyarakat mendorong dan bahkan mengharapkan para ayah untuk merasa seperti itu. Cara pandang yang demikian justru berbahaya bagi ayah dan anak perempuannya. Anak perempuan akan merasa harus menyembunyikan ketertarikannya dengan lawan jenis dan merasa malu terkait seksualitasnya.
Buat percakapan yang terus terang tentang berkencan dan bagaimana laki-laki dan perempuan dapat berpikir berbeda terkait seks. Berikan anak informasi dan dukungan daripada mengancamnya untuk tidak membawa kekasih ke rumah atau untuk tidak jatuh cinta.
Beritahu anak bahwa keinginan tersebut adalah hal yang wajar namun juga penting untuk memberikan batasan perilaku. Dorong anak untuk menunggu seks sampai dirinya benar-benar siap.
4. Informasikan penyakit seks
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Sangat penting bagi orang tua memastikan anak memiliki semua informasi yang mereka butuhkan terkait seks. Bicarakan pada anak tentang penyakit menular seks (PMS) dan beritahu tidak ada seks yang tidak berisiko. Bahkan oral seks memiliki risiko PMS dan menggunakan kondom bukan jaminan mencegah penyakit dan kehamilan yang tidak diinginkan.
5. Jangan hanya sekali
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Pembicaraan seks harus menjadi diskusi yang dilakukan sepanjang hidup. Pada setiap usia, anak akan menyerap informasi secara berbeda dan memiliki pertanyaan yang berbeda. Penting untuk menjaga pintu diskusi terbuka dan terus-menerus memperbaharui topik.
Anak mungkin akan malu-malu dan menjaga jarak, namun mereka tetap akan mendengarkan.
Mungkin beberapa orang tua akan tergoda untuk menggunakan istilah pengganti ketika mengacu pada alat kelamin dengan tujuan memperhalus. Akan tetapi ketika orang tua mengajarkan kepada anak istilah yang salah untuk bagian tubuh, mereka akan belajar untuk merasa malu pada organ tersebut dan mendapatkan kesan bahwa daerah tersebut kotor atau buruk.
Terlebih bila anak menjadi korban bullying akibat lemahnya kosakata terkait kelamin, anak dapat kehilangan kepercayaan pada orang tua. Gunakan kata penis dan vagina sejak hari pertama.
Sekali lagi orang tua mungkin juga akan tergoda menggambarkan seks seperti suatu hal yang menyeramkan. Alasannya karena orang tua tidak ingin anak menjelajahi sisi seksual mereka sebelum matang secara emosional dan fisik. Pesan tersebut namun dapat terus menempel di pikiran anak dan memengaruhi cara pandang mereka melihat seksualitas saat beranjak dewasa kemudian.
Buat pembicaraan mengenai seks positif dan menginspirasi, namun tetap jujur terkait peringatannya. Sebagai contoh: "Seks menyenangkan, tapi sebaiknya dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai. Seks memiliki banyak risiko sehingga kamu harus menunggu dan memastikan dulu pasangan kamu sampai yakin seratus persen."
Ayah khususnya merasa memiliki kewajiban untuk menjaga seksualitas anak perempuannya. Masyarakat mendorong dan bahkan mengharapkan para ayah untuk merasa seperti itu. Cara pandang yang demikian justru berbahaya bagi ayah dan anak perempuannya. Anak perempuan akan merasa harus menyembunyikan ketertarikannya dengan lawan jenis dan merasa malu terkait seksualitasnya.
Buat percakapan yang terus terang tentang berkencan dan bagaimana laki-laki dan perempuan dapat berpikir berbeda terkait seks. Berikan anak informasi dan dukungan daripada mengancamnya untuk tidak membawa kekasih ke rumah atau untuk tidak jatuh cinta.
Beritahu anak bahwa keinginan tersebut adalah hal yang wajar namun juga penting untuk memberikan batasan perilaku. Dorong anak untuk menunggu seks sampai dirinya benar-benar siap.
Sangat penting bagi orang tua memastikan anak memiliki semua informasi yang mereka butuhkan terkait seks. Bicarakan pada anak tentang penyakit menular seks (PMS) dan beritahu tidak ada seks yang tidak berisiko. Bahkan oral seks memiliki risiko PMS dan menggunakan kondom bukan jaminan mencegah penyakit dan kehamilan yang tidak diinginkan.
Pembicaraan seks harus menjadi diskusi yang dilakukan sepanjang hidup. Pada setiap usia, anak akan menyerap informasi secara berbeda dan memiliki pertanyaan yang berbeda. Penting untuk menjaga pintu diskusi terbuka dan terus-menerus memperbaharui topik.
Anak mungkin akan malu-malu dan menjaga jarak, namun mereka tetap akan mendengarkan.
(up/up)