Para peneliti yang berasal dari Emory University School of Medicine, Amerika Serikat, melakukan eksperiman pada tikus laboratorium. Mereka melatih agar tikus-tikus untuk takut terhadap bau yang menyerupai bau bunga sakura.
Setelah tikus-tikus terlatih karena trauma dari bunga sakura dan menjauhi bau tersebut, peneliti melihat hal-hal yang terjadi pada sperma tikus. Mereka menemukan bagian DNA yang bertanggung jawab untuk kepekaan terhadap aroma bunga sakura lebih aktif dalam sperma tikus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Temuan ini adalah bukti bahwa lingkungan dapat mempengaruhi gen individual yang nantinya dapat diturunkan ke generasi berikutnya.
"Ini mungkin salah satu mekanisme bagaimana keturunan menunjukkan kemiripan dari leluhur. Sama sekali tidak ada keraguan lagi bahwa apa yang terjadi pada sperma dan sel telur akan mempengaruhi generasi berikutnya," kata salah satu peneliti, Dr Brian Dias, seperti dikutip dari BBC (10/9/2014).
Profesor Marcus Pembrey dari University College London mengatakan temuan penelitian sangat relevan dan berkaitan erat dengan fobia, kecemasan, dan stres pasca trauma. Menurutnya temuan tersebut dapat menjadi bukti kuat bahwa suatu bentuk memori dapat diwariskan antar generasi.
(vit/vit)











































