"Saya nggak bisa bilang begitu tetapi cobalah kembali ke makanan sehat," kata dr Endang Windiastuti, SpA(K), ditemui detikHealth di RS Kanker Dharnais dan ditulis pada Minggu (14/9/2014).
"Seperti zaman dulu makanan sebagian besar seperti sayur atau lauk kan kita olah langsung. Sekarang memang banyak godaannya, orang makin jarang gerak, pola hidup sehat juga mulai jarang dilakukan," lanjut dr Endang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, ketika seseorang didiagnosis kanker, kemoterapi biasanya menjadi cara pengobatan yang dilakukan. Seperti pada leukemia, kemoterapi berguna membunuh sel leukemia dengan efek samping minimal terhadap sel normal.
Hal terpenting yang harus dilakukan adalah memberi tahu orang tua pasien bagaimana proses dan apa efek samping kemoterapi dengan jujur. Apalagi, untuk proses kemoterapi pasien diharuskan dirawat inap.
"Kita rawat di RS kalau muntah kita kasih obat anti muntah, kalau pusing kasih obat anti pusing, kalau diare kita atasi, dini sekali kita kasih obat diare. Pokoknya kita monitor dengan tepat," lanjut dr Endang.
Untuk lamanya kemoterapi, dikatakan dr Endang tergantung jenis kanker yang dialami. Misalnya leukemia pada anak umumnya memakan waktu dua tahun. Meskipun pada rata-rata ada siklus untuk kemoterapi yakni sekali dalam sepekan, lalu tiga pekan istirahat.
"Tidak pernah tiap hari kecuali kita beri tablet. Untuk suntik atau infus sepekan sekali karena saat kita bunuh sel kanker kan sel normal kena efek, maka diberi waktu tumbuh lagi dengan normal dalam waktu 3 pekan," ucap dr Endang.
(rdn/ajg)











































