Remaja Bisa Sulit Mengekspresikan Emosinya Gara-gara Suntik Botox

Remaja Bisa Sulit Mengekspresikan Emosinya Gara-gara Suntik Botox

- detikHealth
Rabu, 17 Sep 2014 07:04 WIB
Remaja Bisa Sulit Mengekspresikan Emosinya Gara-gara Suntik Botox
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Untuk bisa memiliki wajah cantik dan bebas kerutan, berbagai cara pun dilakukan salah satunya yakni dengan suntik botox. Meski biasa dilakukan oleh orang berusia 30-an tahun. Namun, saat ini tak jarang lho orang di bawah usia 25 tahun melakukan suntik botox.

Lalu, berbahayakah? Menurut para peneliti, suntik botox yang dilakukan oleh seseorang yang terhitung masih muda dapat menghambat pertumbuhan emosional yang dimilikinya. Menurut laporan tim klinis yang ditulis dalam Journal of Aesthetic Nursing, tren melakukan suntik botox pada pasien usia bawah 25 tahun semakin meningkat.

Menurut mereka, suntik botox yang dilakukan pada orang-orang tersebut bisa membuat pasien tidak dapat mengekspresikan wajahnya dengan baik. Rajiv Govier, presiden British Association of Aesthetic Plastic Surgeons mengatakan suntik botox yang diberikan untuk remaja secara moral adalah tindakan yang salah dan jika ada tim medis yang memberikan tindakan ini tanpa adanya indikasi tertentu kemungkinan bia dikategorikan melanggar kode etik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Helen Collier, praktisi kesehatan yang mengetuai penelitian ini mengatakan tayangan televisi dan kehidupan para selebriti membuat para anak muda mengikuti gaya hidup mereka untuk menjalani suntik botox. Efek kehilangan mimik bisa dimasukkan dalam teori psikologi yaitu hipotesis umpan balik wajah.

Dikatakan Collier, teori ini menunjukkan bagaimana sorang remaja mempelajari dengan baik hubungan dengan orang lain dengan membaca mimik wajah. Dengan melakukan suntik botox, tentu akan menghambat seorang remaja dalam berhubungan dengan orang lain karena sulitnya mengekspresikan mimik wajah.

"Sebagai manusia, kemampuan untuk menunjukkan emosi bergantung pada emosi wajah. Emosi seperti empati dan simpati tentu dapat membuat Anda semakin berkembang dalam berkomunikasi di masa dewasa nanti," ujarnya seperti yang dikutip dari BBC, Rabu (17/9/2014).

Bertambahnya generasi 'wajah tanpa ekspresi' pada anak muda masa kini karena kebiasaan melakukan suntik botox, dapat mengganggu kemampuan mereka untuk mengekpresikan diri dengan baik. "Jika Anda menghapus ekspresi tersebut, mungkin bisa menghalangi pembentukan emosi dan sosial," ujar Collier.

Untuk itu para peneliti menyarankan para praktisi untuk menggunakan alat penelitian sebelum memutuskan siapa saja yang berhak mendapatkan penanganan botox ini. Collier juga mengingatkan para terapis untuk lebih peduli dan membantu para anak muda untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka pada wajahnya sehingga tidak perlu mencari alternatif suntik botox.

Walaupun sebagian besar efek dari toksin ini berlangsung sementara, namun para peneliti menemukan jika otot yang disuntik tidak akan pulih semuanya. Efek dari suntik botox ini memang bisa melumpuhkan otot sementara di bawah wajah sehingga menghilangkan kerutan.

dr Michael Lewis, peneliti psikologi dari Cardiff University mengatakan ekspresi wajah yang dibentuk dari wajah Anda dapat berdampak pada emosi yang dirasakan. Senyum memang terbentuk karena perasaan bahagia yang dirasakan, namun kebahagiaan juga bisa timbul karena sebuah senyuman. Pengobatan dengan botox bisa membuat pasien tak bisa menunjukkan beberapa ekspresi dan berdampak pada bagaimana seseorang belajar untuk memahami emosi secara alami.

(rdn/rdn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads