Mengapa begitu? Selain dapat menyebabkan resistensi antibiotik pada si kecil, sebuah penelitian terbaru menemukan anak yang terbiasa diberi antibiotik sebelum berumur genap dua tahun berisiko lebih tinggi mengalami kelebihan berat badan di usia muda.
Kesimpulan ini diperoleh tim peneliti dari University of Pennsylvania selepas mengamati rekam medis dari 65.000-an anak yang pernah menjadi pasien di Children's Hospital of Philadelphia sepanjang tahun 2001-2013. Tinggi dan berat badan anak-anak ini juga diukur oleh peneliti sejak usia mereka lima tahun.
Hasilnya, 69 persen anak diberi antibiotik sejak usianya belum genap dua tahun. Bahkan bagi anak yang diberi antibiotik lebih dari empat kali sebelum usianya mencapai dua tahun berisiko mengalami obesitas hingga sebesar 11 persen.
"Lebih parah lagi kalau antibiotik yang diberikan adalah yang spektrumnya luas, karena risiko obesitasnya melonjak hingga 16 persen," ungkap ketua tim peneliti Dr Charles Bailey seperti dikutip dari jurnal JAMA Pediatrics, Kamis (4/10/2014).
Guru Besar Farmakologi dan Terapi dari Universitas Gadjah Mada, Prof dr Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc. Ph.D juga mengatakan antibiotik memang tak dapat diberikan sembarangan, apalagi kepada anak-anak.
"Kalau digunakan dengan tepat tentu antibiotik tidak akan menyebabkan masalah. Namun jika digunakan melebihi indikasinya bisa menimbulkan kerugian. Contohnya jika dipakai untuk mengobati batuk dan pilek. Batuk dan pilek ini disebabkan oleh virus, sedangkan antibiotik digunakan untuk infeksi bakteri," kata Prof Iwan ketika dihubungi detikHealth beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, penggunaan antibiotik ini juga berisiko menyebabkan efek samping, antara lain:
- Merasa mual dan muntah
- Ruam-ruam di kulit seperti alergi atau biduren
- Bisa juga berakibat parah seperti sindrom Steven Johnson atau sindrom langka yang terjadi karena kulit memberikan reaksi berlebihan terhadap obat atau infeksi tertentu
(lil/vit)











































