Bugar atau Tidaknya Remaja Bisa Ditentukan Lewat 4 Indikator Ini

Bugar atau Tidaknya Remaja Bisa Ditentukan Lewat 4 Indikator Ini

- detikHealth
Sabtu, 04 Okt 2014 08:08 WIB
Bugar atau Tidaknya Remaja Bisa Ditentukan Lewat 4 Indikator Ini
(Foto: Dian/detikHealth)
Jakarta - Umumnya, kebugaran seseorang ditentukan oleh asupan gizi harian, kecukupan waktu istirahat, serta banyaknya aktivitas fisik yang dilakukan. Hal tersebut pun berlaku bagi remaja usia 13-18 tahun. Guna menentukan anak bugar atau tidak, ada indikator yang mesti diperhatikan.

Diutarakan dr Indrarti Soekotjo SpKO dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Olahraga (PDSKO), bugar atau tidaknya seseorang, terutama remaja bisa diukur dari beberapa indikator. Pertama, kemampuan jantung, paru-paru dan pembuluh darah untuk menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh atau disebut juga kebugaran kardiovaskuler.

"Kedua kelenturan. Sebab, orang kalau nggak lentur dalam aktivitas mendadak akan mengalami cedera karena sendinya kaku. begitu digerakkan, ada rasa sakit di sendi," tutur dr Titi, begitu ia akrab disapa, ditemui usai acara Activity Day 'Aktivitas Fisik di Sekolah Program Indonesia Segar' di SMPN 11, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, seperti ditulis Sabtu (4/10/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indikator ketiga dan keempat yakni strength (kekuatan) dan komposisi tubuh yang terdiri dari lemak dan non lemak. Idealnya, komposisi non lemak lebih sedikit. Nah, untuk memastikan remaja melakukan aktivitas fisik, Coca Cola dan PDSKO mengadakan program Indonesia Sehat dan Bugar (Indonesia Bugar).

dr Titi selaku ketua Bidang Edukasi Publik Program Indonesia Segar mengatakan edukasi yang sudah dilakukan di sepuluh SMP dan SMA di Jakarta bertujuan untuk mendekati siswa atau pendidik agar mereka terlibat dalam aktivitas fisik. Para siswa pun bisa menjalani tes kebugaran.

Siswa bisa mengetes kelenturannya menggunakan alat sit and reach. Caranya, mereka duduk kemudian tangan menjangkau jarak di depan sejauh mungkin. Pada atlet, jarak jangkau bisa mencapai 11-19 cm. Tetapi, jarak di atas nol cm (jarak nol cm dimulai dari ujung kaki) menurut dr Titi sudah cukup baik. Kemudian, dilakukan pemeriksaan menggunakan alat untuk mengukur kadar lemak, berat otot, serta kadar air dalam tubuh.

Selain itu, ada pula tes lari untuk mengukur kemampuan jantung menyampaikan oksigen dan kapasitas tubuh menggunakan oksigen. Serta mengukur kekuatan otot siswa di mana siswa melakukan berapa banyak push up selama 30 detik dan berapa lama siswa bisa menahan tubuh dengan posisi mengangkat tubuh dan bertumpu pada kaki dan lengan (seperti push up).

"Masyarakat Indonesia saat ini cenderung kurang gerak. Maka kita ingin mengajak masyarakat untuk lebih aktif bergerak melalui beberapa kegiatan yaitu exercise in medicine, mensertifikasi dokter-dokter di Indonesia untuk meresepkan olahraga, memberi edukasi publik untuk membudayakan kembali aktivitas fisik di sekolah serta public engagement untuk membangun kesadaran masyarakat secara umum agar menggunakan fasilitas umum untuk aktivitas fisik," terang Ratri Wuryandari selaku Sustainability Manager Coca Cola.

(rdn/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads