Baru-baru ini perilaku brutal anak SD di Bukittinggi, Sumatera Barat, terekam kamera dan beredar luas. Peristiwa itu pun menimbulkan keprihatinan banyak kalangan. Meski disebutkan mulanya pemukulan murid pada murid lainnya itu bermula dari korban pemukulan yang menghina orang tua temannya, namun 'balas dendam' dengan kekerasan tetap tidak bisa dibenarkan.
Psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi, menanggapi kekerasan yang dilakukan anak bisa dilakukan sebagai wujud pertahanan. Ketika seorang anak disentuh area harga dirinya, pasti yang muncul adalah sikap bertahan. Sayangnya, beberapa anak tidak memiliki mekanisme pertahanan diri yang tepat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena takut ngomong, jadinya susah ngomong, maka skill untuk soft expression-nya kurang. Hal ini bisa terjadi, mungkin karena di rumah tidak terbiasa untuk belajar mengekspresikan secara verbal," sambungnya.
Beberapa anak jadi sulit berbicara tentang apa yang dirasakan maupun ide-ide yang dimiliki karena keluarga yang membatasi. Bisa jadi karena orang tua akan marah jika anak terlalu 'cerewet', alhasil anak tidak bisa mengembangkan kemampuan berekspresinya.
Sebelumnya diberitakan dalam video berdurasi 4 menit 15 detik yang beredar, tampak seorang siswi berjilbab berdiri di pojok kelas. Ia jadi sasaran pukulan dan tendangan teman-temannya. Berkali-kali ia menerima pukulan dan tendangan.
Siswi korban pemukulan tersebut tak melawan. Ia hanya berusaha menangkis serangan teman-temannya yang datang bergelombang. Di akhir video, ia menangis tapi teman-temannya tetap memukul dan menendangnya.
Meski di ruang kelas, pelaku pemukulan begitu leluasa. Mereka sempat menampakkan mukanya ke kamera sambil tersenyum. Belakangan diketahui ponsel yang digunakan untuk merekam peristiwa yang terjadi 18 September lalu adalah milik orang tua yang dicuri oleh salah satu siswa. Entah bagaimana, video ini kemudian beredar di Facebook dan YouTube.
Peristiwa terjadi saat pelajaran agama. Guru yang mengajar saat itu sedang meninggalkan kelas untuk mengajar di sekolah lain. Menurut Kepala Bidang TK dan SD Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Bukittinggi, kejadian ini sudah ditangani. Korban, pelaku, orang tua, dan pihak sekolah sudah dipertemukan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
(vit/ajg)











































