"Popcorn brain adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kondisi otak anak yang terbiasa dengan layar perangkat digital yang senantiasa merespons stimulus kuat hingga otak meletup-letup," jelas psikiater dan praktisi pendidikan anak di Korea Selatan, Yee-Jin Shin dalam buku Mendidik Anak di Era Digital: Kiat Menangkal Efek Buruk Teknologi, dan ditulis detikHealth pada Selasa (21/10/2014).
Saluran berita CNN AS pada 23 Juni 2011 lalu menyebut jika anak terbiasa melakukan banyak hal sekaligus di perangkat digitalnya, maka struktur otak cenderung tidak bisa beradaptasi dengan dunia nyata. Akibat penggunaan perangkat digitalnya secara membabi-buta, orientasi otak akan kebal terhadap stimulus yang diberikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika anak telanjur terpapar stimulasi yang sangat kuat itu, maka dia akan merespons datar bila diajak bermain ke alam terbuka. Anak akan cepat merasa bosan ketika bermain di ruang terbuka dan terlepas dari gadgetnya.
Jangan remehkan popcorn brain karena kondisi ini akan menurunkan daya konsentrasi anak, sebab otaknya hanya akan mencari stimulus yang kuat. Efek sampingnya daya ingat anak akan melemah.
"Jika kita amati karakteristik anak popcorn brain secara teliti, anak itu tidak bisa mengikuti pelajaran dengan sempurna karena dia tidak sanggup berkonsentrasi membaca," terang Yee-Jin Shin.
Yang lebih serius, akibat popcorn brain, kemampuan anak mengendalikan emosi menjadi lemah. Jadi jika anak tersebut tidak diberi stimulasi yang kuat, maka dia akan jenuh dan kesal.
Hmm, kecanduan gadget pengaruhnya tidak main-main bukan?
(vit/up)











































