Meski Selamat, Risiko Cacat Saraf Hantui Bayi yang Terkena Pneumonia

Meski Selamat, Risiko Cacat Saraf Hantui Bayi yang Terkena Pneumonia

- detikHealth
Kamis, 06 Nov 2014 07:32 WIB
Meski Selamat, Risiko Cacat Saraf Hantui Bayi yang Terkena Pneumonia
Jakarta - Pneumonia atau radang paru akut adalah penyebab kedua tingginya kematian bayi di Indonesia setelah diare. Penyebab pneumonia pada bayi dapat bermacam-macam namun seringkali disebabkan oleh polusi udara terutama rokok seperti dikatakan oleh para dokter spesialis paru.

Presiden kongres Asian Pacific Society of Respirology (APSR) ke-19 Prof dr Faisal Yunus, PhD, SpP(K), mengatakan pneumonia yang terjadi bayi baru lahir harus segera mendapat pengobatan. Peradangan pada paru-paru bayi yang masih kecil akan memiliki dampak yang lebih serius jika dibandingkan dengan pneumonia yang terjadi para orang dewasa.

"Kenapa bayi banyak meninggal dari pneumonia? Karena bayi itu paru-parunya kecil, begitu kena infeksi susah dapat oksigennya dan cepat matinya. Kalau orang dewasa masih sempat dipakai cara lain seperti memakai alat bantu nafas karena paru-parunya besar," kata dr Faisal saat ditemui pada konferensi pers kongres Asian Pacific Society of Respirology (APSR) di hotel HARRIS, Kelapa Gading, Jakarta Utara, seperti ditulis Kamis (6/11/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski kasus pneumonia fatal pada bayi dapat dihindari, adakalanya kerusakan sudah terlanjur terjadi pada otak bayi. Karena paru-paru yang tidak bisa mensuplai oksigen, sel otak akan mati karena kekurangan nutrisi. Kerusakan ini seringnya bersifat permanen dan jika memang bisa diperbaiki akan sulit untuk seperti sediakala.

"Kalau saraf itu sudah ireversible, enggak balik lagi. Makanya kalau orang stroke terus lumpuh bisa balik lagi? Enggak kan. Itu kan prinsipnya sama karena otak kekurangan oksigen," tambah dr Faisal.

Bayi yang mengalami kerusakan otak dikatakan oleh dr Faisal biasanya akan tumbuh dengan berbagai macam kecacatan. Keterbelakangan mental, masalah memori, atau terperangkap dalam kondisi vegetasi adalah salah satu contoh masalah yang bisa muncul karena kerusakan otak saat masih bayi.

"Bayi vegetasi seperti tumbuh-tumbuhan. Dia hanya bisa dikasih makan terus, hidup sebenarnya tapi mesti disuapin, terus liurnya keluar terus," tutup dr Faisal.

(up/up)

Berita Terkait