Untuk meredakan sakitnya, Willow kecil yang dirawat di Royal Manchester Children's Hospital ini harus menjalani prosedur bernama gastrostomy secara rutin. Berkat prosedur tersebut, Willow bisa bertahan hidup. Akan tetapi suatu ketika kadar potassium di tubuh Willow masih naik-turun drastis, meski gastrostomy yang dilakoninya lancar.
Oleh farmasis yang bertugas memberinya obat, si kecil kemudian diberi potassium untuk menstabilkan kadar mineral tersebut dalam tubuhnya. Tetapi sesaat setelah potassium dimasukkan, ibu Willow melihat putrinya tampak pucat dan berusaha keras untuk bernapas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah prosedur, harusnya ia pulih sepenuhnya. Tapi sekembalinya kami, Willow tampak tidak biasa. Dia tampak tiduran di kasurnya dalam keadaan tak nyaman, napasnya memburu, bahkan ada cairan putih keluar dari mulutnya. Tubuhnya juga terasa panas ketika dipegang," tutur Oliver seperti dikutip dari Mirror, Selasa (16/12/2014).
Benar saja, pada tanggal 28 Juni 2012, tepatnya pukul 18.15, atau satu jam 20 menit setelah pemeriksaan pertamanya, dilaporkan kadar potasium di tubuh Willow melonjak tajam, dan situasinya menjadi kritis.
Namun bisa dibilang ini sudah terlambat. Tak berapa lama, Willow mengalami henti jantung dan meninggal dunia beberapa waktu kemudian, kendati tim medis berupaya sekuat tenaga untuk melakukan tindakan resusitasi pada Willow.
"Ketika tim medis datang, saya menunjuk monitor jantung putri saya. Saya tanya, apakah itu terlihat benar bagimu? Ia pun mengecek Willow dan mengakui bila Willow tampak berbeda. Kemudian kami meninggalkan ruangan karena Willow segera ditangani. Tapi tak berapa lama kami diberitahu ia sudah tiada," kata Oliver.
Kondisi ini membuat Oliver sedih sekaligus berang. Ia pun menuntut pihak rumah sakit bertanggung jawab terhadap kematian putrinya. Di pengadilan terkuak bahwa farmasis yang bertanggung jawab terhadap obat Willow meresepkan potassium kepada si kecil dalam dosis yang sangat besar. Bahkan ia mengaku belum pernah meresepkan potassium dengan dosis sebesar itu sepanjang karirnya.
Hal ini diperparah dengan tindakan perawat yang seharusnya mengawasi Willow. Jadi setelah potassium dimasukkan ke tubuh pasien, seharusnya perawat mengecek kadar gas dalam darah pasien lagi dalam kurun waktu berdekatan. Tahu-tahu ketika diperiksa pada jam 16.51 pm (28 Juni 2012), perawat melaporkan bahwa kadar potassium dalam darah Willow telah mencapai 5,7 milimol/liter.
Padahal normalnya kadar potassium manusia hanya berkisar antara 3,5-5,5 mmol/liter. Satu jam 20 menit setelah pemeriksaan pertama itulah, kadar potassium Willow makin lama makin memburuk, sehingga menyebabkan bocah malang itu mengalami henti jantung dan meninggal dunia.
"Saya memang seharusnya mengecek kadar potassiumnya lebih sering karena dosis obat yang dimasukkan begitu besar. Tapi saya tidak diberi instruksi yang spesifik tentang itu," sesal perawat yang menangani Willow, Stacey Cain.
Dr Robert Ross-Russell, konsultan dokter anak dari Addenbrooke's Hospital, Cambridge yang dimintai untuk membuat laporan tentang kasus ini juga mengakui bahwa potassium yang diberikan sangat tinggi.
"Saya pernah melakukannya sekali dua kali, tapi tidak pada pasien sekecil atau dengan berat badan yang begitu rendah. Saya menyesalkan keputusan farmasis untuk menaikkan dosis potassiumnya, karena ini sangat berisiko. Kalaupun ini harus dilakukan, mereka seharusnya lebih berhati-hati memonitor si pasien," keluhnya.
(lil/up)











































