Menurut psikolog klinis dan psikoterapis, Henny Wirawan, remaja terbiasa mengikuti kebiasaan dan cara bertindak temannya, terutama teman yang lebih populer. Hal ini terkait dengan keinginan remaja untuk diterima dalam kelompoknya. Itu makanya kerap dilihat sekelompok remaja punya penampilan yang mirip.
Hal senada juga disampaikan oleh psikolog Agustina dari Universitas Tarumanagara, yang mengungkapkan bahwa hal tersebut dikarenakan oleh konformitas. "Saat melakukan konformitas, remaja berusaha untuk menjadi sama dengan teman di lingkungannya agar diterima, ujarnya. Jadi kalau teman-teman di lingkungannya mengenakan busana tertentu, si remaja akan mengikuti temannya," kata Agustina dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Senin (19/1/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini dapat dikatakan wajar karena remaja sedang berusaha mencari identitas diri dengan mencari gaya seperti apa yang cocok untuk mereka. Tapi juga dapat dikatakan tidak wajar jika penampilannya tidak sesuai dengan usia perkembangannya.
Indikator wajar jika remaja melakukan konformitas pada lingkungan yang benar dan positif. "Yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai berlebihan. Jadi penampilan itu harus sesuai dengan usia," kata psikolog Debora Basaria saat dihubungi terpisah.
Tak dipungkiri, penampilan remaja dipengaruhi oleh tayangan di televisi ataupun media cetak yang kurang dicerna dengan baik oleh remaja. "Biasanya remaja cenderung melakukan modeling (meniru) tanpa pertimbangan yang matang," tutur Debora.
Kerap dijumpai remaja putri yang tampil dengan pakaian ketat. Menurut Debora, baju ketat pada sebagian remaja adalah cara remaja ingin menunjukkan seksualitas mereka sebagai remaja yang dipengaruhi oleh hormon akibat pubertas. Ingin tampil dewasa di muka umum, juga menjadi alasan bagi remaja untuk mengenakan pakaian ketat. Apalagi jika tayangan di televisi memperlihatkan artis-artis idola remaja yang tampil dengan rok mini dan pakaian ketat, bukan tidak mungkin menjadi inspirasi bagi beberapa remaja untuk tampil demikian.
Nah, orang tua dan sekolah memiliki peran besar dalam mengingatkan dan membimbing anak agar tidak melakukan konformitas yang salah. Ini penting agar kelak remaja memiliki identitas diri positif.
"Nggak hanya orang tua dan guru tapi para produsen, pemuka agama hingga pemerintah dapat ikut berperan serta. Misalnya saja dengan melakukan sensor pada tayangan-tayangan yang tidak sesuai untuk anak remaja," saran Debora.
(vit/up)










































