Ilmuwan Bikin Terapi Berbasis Video untuk Anak yang Berisiko Autis

Ilmuwan Bikin Terapi Berbasis Video untuk Anak yang Berisiko Autis

- detikHealth
Selasa, 27 Jan 2015 20:04 WIB
Ilmuwan Bikin Terapi Berbasis Video untuk Anak yang Berisiko Autis
Manchester -

Autisme tidak lantas muncul ketika anak baru saja lahir. Sebagian anak biasanya tumbuh dengan normal hingga usia tiga tahun, barulah kemudian gejala autisnya muncul. Setidaknya untuk mengurangi gejala ini muncul pada anak-anak yang berisiko, ilmuwan menciptakan terapi khusus.

Prof Jonathan Green, ketua tim peneliti dari Manchester University ini mengemukakan ada tiga gangguan yang umumnya terjadi pada anak dengan autisme, yaitu gangguan interaksi dan pemahaman sosial; adanya ketertarikan dan perilaku yang bersifat repetitif; serta gangguan bahasa maupun komunikasi.

Untuk itu, ia dan timnya mengembangkan terapi berbasis video yang diberi nama Video Interaction for Promoting Positive Parenting Programme (iBASIS-VIPP). "Terapi ini bisa membantu orang tua memahami dan merespons gaya berkomunikasi anaknya sejak dini, terutama untuk mengantisipasi siapa tahu ada gejala autis yang muncul," katanya seperti dikutip dari ABC Australia, Selasa (27/1/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai percobaan, peneliti mengamati 54 keluarga yang mempunyai bayi berumur 7-10 bulan. Bayi-bayi ini diklaim berisiko tinggi terkena autisme karena memiliki kakak autis. Sebagian ada yang dikirim iBASIS-VIPP dan sebagian lagi dibiarkan berkembang tanpa intervensi.

Keluarga yang memperoleh terapi ini juga mendapatkan kunjungan dari terapis sebanyak enam kali. Lima bulan kemudian, bayi yang mendapatkan fasilitas ini terlihat lebih bisa berinteraksi dengan orang lain dan cenderung mudah memperhatikan sesuatu.

Bahkan dengan Autism Observation Scale for Infants (AOSI), bayi yang memperoleh terapi berbasis video ini juga lebih jarang memperlihatkan perilaku yang berkaitan dengan autisme, dibandingkan mereka yang tidak memperoleh terapi semacam ini.

"Ini artinya intervensi terhadap risiko paling dini dari autisme seperti kurangnya atensi atau tak adanya ketertarikan sosial maupun keinginan untuk berinteraksi memang bisa mengurangi atau bahkan mencegah munculnya gejala yang berkaitan dengan autisme di kemudian hari," tukas Green.

Apalagi dari studi sebelumnya yang dipublikasikan Journal of American Academy of Child and Adolescent Psychiatry di tahun 2012 juga dikemukakan bahwa terapi atau intervensi dini yang diberikan pada bayi berumur 18-24 bulan dan mengidap autisme terbukti meningkatkan kemampuan sosial dan komunikasi mereka.

(lil/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads