"Pasien Ryuji datang ke kami (RSCM) pada 29 Desember 2014 dengan keluhan perut buncit, kuning, dan feses seperti dempul. Pasien kemudian ditatalaksana sebagai pasien rawat jalan dan diminta kontrol untuk menegakkan apa penyebab kondisi itu termasuk seberapa besar gangguan fungsi hati yang dialami," terang Direktur Utama RSCM Dr dr CH Soejono, SpPD(K) di Kantor Kemenkes, JL HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2015).
Pada tanggal 8 Januari 2015, pasien kontrol dengan kondisi muntah disertai kesadaran yang kurang baik. Kemudian, ia dirawat selama 11 hari untuk diobati. Setelah kondisinya membaik, Ryuji diperbolehkan pulang tetapi tetap dilanjutkan rawat jalan. Kepada keluarga pun dijelaskan kondisi Ryuji membutuhkan pemeriksaan lanjut berupa biopsi hati untuk menentukan diagnosis agar pengobatan tuntas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hadir dalam kesempatan yang sama, Dr dr Hanifah Oeswari SpA(K), konsultan hepatologi anak menurutkan ada dua diagnosis pasti atresia bilier yakni dengan operasi di bagian perut untuk memberi pemeriksaan kontras di saluran empedu yang kemudian difoto. Kedua, dengan biopsi hati.
"Dari situ kita dapatkan, ada nggak gambaran khas atresia bilier atau informasi kelainan hatinya sampai tahapan berapa. Nah dari situ baru kita tentukan penatalaksanaan lanjut. Untuk pasien seperti ini, transplantasi hati prosesnya masih panjang dan belum tentu juga kan pasien membutuhkan transplantasi atau tidak," terang dr Hanif.
"Kalau memang diputuskan butuh transplantasi hati, kita cari donornya ada atau tidak? Kalau ada donor dan resipien menjalani skrining setelah itu donor atau keluarga pasien dapat info menyeluruh soal transplantasi termasuk risikonya. Mereka juga harus bertemu komisi etik RS, baru operasi dijalani. Jadi banyak tahapan. Untuk pasien RMK ini masih diagnosis awal sehingga 'perjalanan pengobatannya' masih panjang," tutur dr Hanif.
(rdn/vit)











































