Bayi Ryuji Disebut Butuh Rp 1,2 M untuk Cangkok Hati, Ini Tanggapan RSCM

Bayi Ryuji Disebut Butuh Rp 1,2 M untuk Cangkok Hati, Ini Tanggapan RSCM

- detikHealth
Rabu, 11 Feb 2015 17:18 WIB
Bayi Ryuji Disebut Butuh Rp 1,2 M untuk Cangkok Hati, Ini Tanggapan RSCM
Illustrasi: Thinkstock
Jakarta - Bayi Ryuji Marhaenis Kaizan (5 bulan) diduga mengidap atresia bilier. Untuk biaya pengobatan bayi Ryuji disebutkan mencapai Rp 1,2 miliar. Pihak RS Cipto Mangunkusumo selaku rumah sakit tempat Ryuji dirawat pun angkat bicara.

"Pasien Ryuji datang ke kami (RSCM) pada 29 Desember 2014 dengan keluhan perut buncit, kuning, dan feses seperti dempul. Pasien kemudian ditatalaksana sebagai pasien rawat jalan dan diminta kontrol untuk menegakkan apa penyebab kondisi itu termasuk seberapa besar gangguan fungsi hati yang dialami," terang Direktur Utama RSCM Dr dr CH Soejono, SpPD(K) di Kantor Kemenkes, JL HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2015).

Pada tanggal 8 Januari 2015, pasien kontrol dengan kondisi muntah disertai kesadaran yang kurang baik. Kemudian, ia dirawat selama 11 hari untuk diobati. Setelah kondisinya membaik, Ryuji diperbolehkan pulang tetapi tetap dilanjutkan rawat jalan. Kepada keluarga pun dijelaskan kondisi Ryuji membutuhkan pemeriksaan lanjut berupa biopsi hati untuk menentukan diagnosis agar pengobatan tuntas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tanggal 5 Februari dirawat dengan keluhan mencret dan muntah dan sekarang sudah 7 hari dan berangsur membaik. Selain mencret muntah ada penumpukan cairan di perut dan gagal tumbuh. Tapi bobotnya sudah naik dari 4,3 kg menjadi 4,5 kg. Nah tetap akan kita lanjutkan biopsi untuk tahu diagnosis selanjutnya karena saat ini masih diduga atresia bilier, jadi belum ada pembicaraan soal biaya transplantasi mencapai Rp 1,2 miliar," tegas dr Soejono.

Hadir dalam kesempatan yang sama, Dr dr Hanifah Oeswari SpA(K), konsultan hepatologi anak menurutkan ada dua diagnosis pasti atresia bilier yakni dengan operasi di bagian perut untuk memberi pemeriksaan kontras di saluran empedu yang kemudian difoto. Kedua, dengan biopsi hati.

"Dari situ kita dapatkan, ada nggak gambaran khas atresia bilier atau informasi kelainan hatinya sampai tahapan berapa. Nah dari situ baru kita tentukan penatalaksanaan lanjut. Untuk pasien seperti ini, transplantasi hati prosesnya masih panjang dan belum tentu juga kan pasien membutuhkan transplantasi atau tidak," terang dr Hanif.

"Kalau memang diputuskan butuh transplantasi hati, kita cari donornya ada atau tidak? Kalau ada donor dan resipien menjalani skrining setelah itu donor atau keluarga pasien dapat info menyeluruh soal transplantasi termasuk risikonya. Mereka juga harus bertemu komisi etik RS, baru operasi dijalani. Jadi banyak tahapan. Untuk pasien RMK ini masih diagnosis awal sehingga 'perjalanan pengobatannya' masih panjang," tutur dr Hanif.

(rdn/vit)

Berita Terkait