14 Februari adalah tanggal populer di budaya Barat untuk merayakan valentine atau hari kasih sayang. Masyarakat Thailand ikut mengadopsi budaya tersebut dari turis namun pemerintah khawatir hal ini akan meningkatkan kejadian remaja melakukan seks pranikah.
Baca juga: Ingat Ya, Pacaran Tidak Sama dengan Cinta dan Aktivitas Seksual https://health.detik.com/read/2015/02/04/180115/2823754/763/ingat-ya-pacaran-tidak-sama-dengan-cinta-dan-aktivitas-seksual
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melepaskan burung atau ikan adalah ritual agama Budha yang dipercayai dapat meningkatkan keberuntungan atau karma. "Lebih baik menenteramkan pikiran. Jangan terobsesi pada sesuatu yang tidak sesuai dengan umur kamu," imbuh Pirapong.
Pemerintah khawatir tahun 2015 ini akan terjadi peningkatan pada kehamilan remaja. Untuk mengatasinya mereka telah menyediakan 3,5 juta kondom di 68 pusat pelayanan kesehatan dan 10 rumah sakit kota.
Kementerian Kesehatan Thailand bahkan berencana memasang mesin penjual kondom elektronik di sekolah-sekolah. Pada tahun 2010 ide tersebut sudah diuji coba namun ditentang keras oleh para orang tua yang khawatir mesin kondom malah akan mendorong anak untuk melakukan seks.
"Dua dari tiga anak memberikan respons positif tapi sekitar 90 persen orang tua sangat tegas menolaknya," tutup Pirapong.
Baca juga: Pesan Menteri Puan untuk Siswa SMP: Jangan 'Main Mata' Sebelum Lulus Sekolah https://health.detik.com/read/2015/01/28/152911/2816643/763/pesan-menteri-puan-untuk-siswa-smp-jangan-main-mata-sebelum-lulus-sekolah
Cokelat Plus Kondom
Menjelang valentine, beredar kabar adanya cokelat yang dijual satu paket dengan kondom. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mulai mewaspadai hal ini.
Wakil Ketua KPAI Maria Advianti mengaku sudah menemukan paket tersebut dijual di beberapa supermarket, namun enggan merinci supermarket mana yang menjual barang tersebut. "Adalah. Di Jakarta. Kita temukan, memang tidak dijual langsung atau dipromosikan begitu. Tapi kalau pembeli nanya atau minta pasti diambilkan dari bawah meja kasir," tutur Maria, dalam temu media di KPAI, Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Baik cokelat maupun kondom memang bukan barang ilegal, dan sah diperjualbelikan di Indonesia. Masalahnya jika dijadikan satu paket, ada kemungkinan barang tersebut dibeli oleh mereka yang belum berhak. Kondom seperti diketahui, hanya boleh dijual kepada pembeli dengan usia di atas 21 tahun.
"Kalau dijadikan satu paket gitu kan ambigu. Misalnya anak remaja mau beli cokelat dapat juga kondomnya. Kan ini menyalahi aturan," ungkapnya lagi.
Diakui Maria juga bahwa modus penjualan seperti ini memang bukan hal baru. Tahun lalu, praktik penjualan paketan kondom plus cokelat ini juga ditemukan di beberapa minimarket dan supermarket, namun langsung ditarik atas rekomendasi KPAI.
"Kita masih mengumpulkan bukti. Apa ini strategi promosi dari pihak supermarket atau perusahaan kondom. Kita juga pantau titik-titik penjualannya di mana saja. Jika memang ternyata benar ini bentuk promosi, kami akan minta pemerintah daerah untuk menarik produk tersebut dari peredaran," pungkasnya.
(mrs/vit)











































