Orang-orang yang tinggal di daerah konflik seperti Gaza mungkin hampir tak pernah merasakan hidup tenang, apalagi jika mereka masih kanak-kanak dan mengidap gangguan mental sejak lahir.
Berdasarkan hasil laporan Palestinian Central Bureau of Statistics di tahun 2012 ditemukan ada sekitar 126.000-270.000 penyandang difabel di kota Gaza. Diyakini bahwa konflik yang terjadi antara militan Palestina dan Israel yang tak kunjung reda telah berdampak besar pada kesehatan fisik dan mental penduduk di kota tersebut.
Akibatnya banyak ibu yang melahirkan anak dengan gangguan mental ataupun mengalami cacat fisik. Kendati demikian, keberadaan anak-anak penyandang difabel ini juga masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat, sehingga banyak orang tua yang memilih menyembunyikan anak-anak difabel mereka di dalam rumah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu National Centre for Community Rehabilitation menawarkan terapi musik untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Gaza. Ini bukan terapi musik biasa, karena anak-anak ini diajak bernyanyi bersama, dengan didampingi orang tua dan sejumlah penduduk lainnya.
Tujuan mereka adalah untuk mendorong agar anak-anak dengan cacat fisik dan gangguan mental ini bisa membaur di masyarakat. "Musik selalu berhasil menjadi alat terapi yang efektif bagi anak berkebutuhan khusus. Lewat musik, anak-anak bisa mengekspresikan diri mereka dan berinteraksi dengan orang lain, sesuatu yang jarang mereka lakukan," ungkap Eileen Audullah, salah seorang psikolog yang membantu program ini.
Terapinya pun hanya dengan musik. Anak-anak ini juga diajak untuk bermain drama, membaca puisi serta mencurahkan jiwa seni mereka. Bahkan dalam beberapa kesempatan, orang tua mereka juga diminta berakting bersama sang buah hati.
Manfaatnya pun mulai terasa. Salah seorang yang tak disebutkan namanya mengatakan, "Saya suka tempat ini dan saya suka musik. Saya merasa gembira saat bernyanyi. Saya selalu bilang kepada ayah untuk mengantar saya ke sini."
"Sejak ikut sesi terapi ini, saya jadi rajin ke sekolah lagi. Saya juga merasa sangat nyaman dengan staf-stafnya, makanya saya tak pernah melewatkan satu sesi pun," timpal anak lain.
Bahkan bukan hanya anak-anak saja yang merasakan manfaat terapi ini. Lubna Nasser, ibu dari dua anak mengaku tak lagi menutup diri sejak mengikuti terapi yang digelar hampir tiap hari tersebut. "17 tahun lalu, saya melahirkan anak kembar yang sama-sama mengalami gangguan mental. Sejak saat itu saya menghindari keluarga dan teman-teman saya, bahkan tetangga tak tahu saya punya anak difabel," kisahnya.
Seorang ayah dari salah satu peserta juga melihat anaknya mengalami perubahan semenjak mendapatkan terapi tersebut. "Ternyata ketika kami beraktivitas bersama anak-anak, kami melihat sendiri, kepercayaan diri mereka mulai tumbuh," tambahnya.
Sayangnya karena kurangnya fasilitas penunjang, terapi yang dilakukan National Centre for Community Rehabilitation hanya dapat diberikan pada anak-anak penyandang difabel di sekitaran kota Gaza saja. Artinya mereka belum dapat menjangkau anak-anak berkebutuhan khusus yang ada di daerah lain di Palestina, yang mungkin lebih membutuhkan bimbingan mereka.
"Kami juga kekurangan dana, padahal terapi semacam ini dibutuhkan oleh mereka," tutur kepala pusat rehabilitasi, Wael Abu Razak seperti dikutip dari BBC, Selasa (3/3/2015).
Baca juga: Hebat! Meski Lumpuh, Anak-anak Ini Pantang Menyerah Ikut Triathlon
(lil/up)











































