'Si Endutnya Mama', Mungkin Terdengar Lucu Tapi Berdampak Tak Baik Bagi Anak

'Si Endutnya Mama', Mungkin Terdengar Lucu Tapi Berdampak Tak Baik Bagi Anak

- detikHealth
Kamis, 12 Mar 2015 15:15 WIB
Si Endutnya Mama, Mungkin Terdengar Lucu Tapi Berdampak Tak Baik Bagi Anak
Jakarta - Beberapa orang tua memiliki panggilan sayang untuk anaknya. Panggilan sayang kerap kali diberikan berdasarkan ciri fisik si anak. Misalnya saja 'si endutnya mama' diberikan pada anak yang bertubuh gemuk. Namun kerap pula anak diberi embel-embel julukan 'si rusuh', 'si cengeng', yang merujuk pada perilaku anak. Awalnya mungkin terdengar lucu, tapi hati-hati dampaknya sama sekali tidak lucu.

Psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi, mengatakan sering kali dijumpai orang-orang yang justru memberi nama panggilan sayang dengan melekatkan hal-hal yang sifatnya negatif. Padahal yang semacam ini rentan membuat anak menjadi korban bullying.

Baca juga: Tak Cuma Pujian, Anak pun Butuh Pengakuan untuk Tingkatkan Harga Diri

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Waktu masih bayi mungkin anak gendut itu lucu, lalu dipanggil si gendut. Tapi seiring dia besar, gemuk tidak lagi lucu, dan malah menjadi olok-olokan buat dia. Nah anak itu kemudian menanamkan dalam dirinya bahwa dia itu memang gemuk, jadi nggak apa-apa kalau makannya banyak, lalu geraknya lambat, nggak perlu gerak," papar Ratih, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Kamis (12/3/2015).

Hal yang sama jika orang tua, entah sadar atau tidak, sering mengatai anaknya 'dasar kamu si rusuh' atau 'dasar kamu si malas'. Dampaknya anak akan membentuk dirinya sebagai anak yang menjadi biang kerusuhan ataupun anak yang malas.

"Dia akan bilang 'orang-orang kan panggil aku rusuh atau malas, jadi nggak apa-apa aku berbuat rusuh atau malas'. Kadang orang berkata tidak dipikir lebih dahulu, jadi suka tidak memikirkan apa dampak ke depannya," tambah Ratih.

Baca juga: Ini Kecerdasan Paling Penting yang Harus Dimiliki Anak-anak

Melabeli anak dengan hal-hal yang berbau negatif seolah seperti membiarkan anaknya tumbuh sebagai korban bullying. Jika orang tuanya saja sudah membully, maka orang-orang di sekitarnya pun bisa jadi akan mudah melakukan hal yang sama pada anak tersebut.

"Pelabelan itu bisa jadi membuat anak tumbuh dalam karakter yang sudah dilabelkan padanya," ucap Ratih.

(vta/up)

Berita Terkait