Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Autism Research ini menunjukkan bukti awal bahwa biomarker protein dapat mengungkapkan peradangan tersembunyi dan respons imun yang menunjukkan autisme. Penelitian juga bertujuan untuk membuktikan bahwa metode tersebut dapat dipercaya dan untuk mengumpulkan sampel data kecil yang bisa digunakan dalam tes selanjutnya yang lebih besar.
"Ini adalah langkah pertama. Kami berharap bisa menemukan metode biomarker yang bisa bekerja berdampingan dengan pengukuran perilaku," ucap penulis senior dan peneliti neuropsikologi Alisa Woods yang dikutip dari Medical Daily pada Minggu (10/5/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim peneliti sebelumnya mengumpulkan sampel air liur dari 12 peserta, enam di antaranya memiliki ASD dan sisanya tidak. Dari analisis konsentrasi protein, mereka menemukan bahwa anak-anak dengan ASD memiliki protein dan konsentrasi yang sangat berbeda secara keseluruhan.
Selain itu, bisa dikatakan nantinya metode biomarker lebih unggul dari segi waktu, karena dapat mendiagnosis secara jelas sejak dini, berbeda dengan pengukuran perilaku yang hanya dapat mengungkap gambaran autisme yang jelas ketika anak mencapai usia dewasa.
Meskipun demikian, Woods menyadari bahwa ia dan timnya belum memiliki tes yang sah di tangan mereka. "Kita perlu melakukan studi skala besar untuk memvalidasi biomarker tesebut dan membandingkannya dengan pengukuran perilaku," katanya. "Jika kita bisa melakukan itu, tentu kita bisa memperbaiki tes yang ada atau melengkapinya."
Saat ini, ASD didiagnosis melalui tes perilaku yang disebut Autism Diagnostic Observation Schedule (ADOS). AODS adalah rangkaian penilaian yang mengukur spektrum autisme berdasarkan kemampuan komunikasi dan bersosialisasi. Namun, tes ADOS sering dianggap terlalu sederhana.
Woods menjelaskan autisme bukan hanya mengenai gangguan sosial, tetapi juga berkaitan dengan masalah medis yang melibatkan disfungsi gastrointestinal yang dapat memicu respons imun dan menghasilkan peradangan dalam tubuh.
Baca juga: Tak Mau Dideportasi, Bocah dengan Autisme Surati Menteri Imigrasi Australia
(up/up)











































