Studi Ungkap Tingkat Kekerasan dan Pelecehan Anak di AS Masih Tinggi

Studi Ungkap Tingkat Kekerasan dan Pelecehan Anak di AS Masih Tinggi

Nita Sari - detikHealth
Rabu, 01 Jul 2015 19:16 WIB
Studi Ungkap Tingkat Kekerasan dan Pelecehan Anak di AS Masih Tinggi
Jakarta - Tingkat kekerasan pada anak dan remaja masih tinggi di Amerika Serikat. Lebih dari sepertiga anak dan remaja mendapatkan kekerasan fisik dari saudara dan teman sebaya.

Peneliti menganalisis hasil wawancara via telepon mengenai pengalaman 4.000 anak-anak dan remaja. Anak berusia 10 hingga 17 tahun menjawab pertanyaan tentang kekerasan, kriminal dan pelecehan yang mereka alami. Sedangkan pada anak berusia di bawah 9 tahun, pertanyaan tersebut dijawab oleh pengasuhnya. Hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari 37 persen anak menerima kekerasan fisik dari saudara atau teman, dan 9 persen mengalami luka dari kekerasan tersebut.

Sementara itu, terdapat 15 persen anak yang tidak diperlakukan dengan baik oleh orang tua atau pengasuh lainnya. Perlakuan buruk tersebut meliputi kekerasan fisik, kekerasan emosional, mengabaikan anak, atau campur tangan hak asuh anak. Secara keseluruhan, anak laki-laki mendapat kekerasan dua kali lebih sering daripada anak perempuan. Survei juga menemukan bahwa dua persen anak perempuan mendapatkan kekerasan seksual yang 4,6 persennya berusia 14 hingga 17 tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Menkes Imbau Dokter Kecil Ikut Berperan Aktif Waspadai Kekerasan

"Statistik dari penelitian ini sangat menyedihkan bagi saya sebagai orang tua dan dokter anak. Ini harus menjadi perhatian dari ahli kesehatan publik dan pembuat kebijakan untuk menyediakan sumber daya dan menjamin anak-anak dan remaja tidak mendapat berbagai jenis kekerasan di masa depan," ucap dr Andrew Adesman, ketua Developmental and Behavioral Pediatrics di Cohen Children's Medical Center of New York, seperti dikutip dari CBS News pada Selasa (30/6/2015).

"Anak-anak adalah bagian dari populasi yang paling sering menjadi korban. Masih banyak indikator kriminal nasional yang belum melihat pengalaman anak atau gambaran menyeluruh termasuk kekerasan yang dialami anak-anak. Dampak dari kekerasan tersebut berpengaruh besar pada kehidupan jangka panjang anak. Hal itu dihubungkan dengan penggunaan narkoba, bunuh diri, tindakan kriminal, penyakit mental, dan penyakit kronis di masa depan," ucap David Finkelhor, direktur Crimes against Children Research Center di University of New Hampshire.

David menyatakan bahwa berbagai program dapat mencegah kekerasan tersebut mulai dari program bimbingan orang tua, edukasi di sekolah, hingga program edukasi hubungan personal.

Selain itu, Mayra Mendes, spesialis anak usia dini di Santa Monica, juga menyatakan bahwa faktor utama dalam mencegah kekerasan anak adalah menciptakan hubungan dan lingkungan yang aman dan stabil antara anak dan pengasuh.

"Sebagai tambahan, bagi anak yang pernah mengalami kekerasan sebaiknya mengikuti konseling, terapi, kelompok bermain yang mendukung, terapi keluarga, dan kadang-kadang pengobatan yang dapat menangani masalah kondisi mental dan trauma," ucap Mayra.

Baca juga: Mutia Ribowo, Mempelajari Gambar untuk Hilangkan Trauma pada Anak



(ajg/ajg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads