Tes Mengendus Bau Kelak Bisa Bantu Deteksi Autisme pada Anak

Tes Mengendus Bau Kelak Bisa Bantu Deteksi Autisme pada Anak

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Jumat, 03 Jul 2015 20:07 WIB
Tes Mengendus Bau Kelak Bisa Bantu Deteksi Autisme pada Anak
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Rehovot, Israel -

Meski penelitian tentang autisme telah banyak dilakukan, namun belum ada yang sepakat tentang bagaimana metode terbaik untuk memastikan seorang anak mengidap autis atau tidak. Namun menurut peneliti dari Israel autisme pada anak bisa dilihat dari caranya mencium aroma tertentu.

Selama ini tim medis maupun orang tua anak dengan autis berupaya memastikan kondisi putra-putri mereka dari perilaku, interaksi sosial dan kemampuannya berkomunikasi. Sebab biasanya anak dengan autisme cenderung tidak aktif dalam ketiga aspek tersebut.

Kendati demikian, beberapa waktu lalu, tim peneliti Weizmann Institute of Science menemukan kecenderungan autisme pada anak tidak hanya dapat dilihat dari ketiga aspek tersebut, tetapi juga dari caranya mencium aroma tertentu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Ciri Fisik Anak Autis Terletak di Mata dan Bibir

Mereka membuktikannya dengan melakukan pengamatan terhadap 36 anak dengan autisme. Masing-masing dari mereka dipasangi dua macam selang di depan hidungnya, yang satu berwarna merah dan satunya lagi berwarna hijau.

Ketika selang merah melepaskan aroma yang sedap dan tidak sedap, maka selang hijau berfungsi untuk merekam adanya perubahan pola pernapasan pada si anak. Kemudian aroma-aroma tersebut dilepaskan ke indera penciuman si anak selama 10 menit saja.

"Normalnya anak akan mengubah kedalaman endusannya pada aroma tertentu. Tetapi anak dengan autisme tidak memperlihatkan adanya perubahan itu. Bagi mereka, aroma yang harum tak berbeda dengan bau busuk," ungkap peneliti Liron Rozenkrantz seperti dikutip dari BBC, Jumat (3/7/2015).

Bahkan dari percobaan itu peneliti juga mengetahui bahwa makin parah gejala autismenya, maka si anak akan cenderung menghirup aroma yang tidak sedap lebih lama.

"Keuntungan dari adanya tes ini adalah kita tak perlu menunggu sampai si anak bisa berkomunikasi untuk mengetahui risiko autisnya," lanjut Rosenkrantz yang juga seorang kandidat PhD tersebut.

Rozenkrantz juga mengungkapkan bahwa cara yang mereka temukan ini memiliki akurasi untuk mendeteksi autisme hingga 81 persen. Meski begitu, Rozenkrantz mengakui hasil tesnya ini belum bisa dijadikan sebagai salah satu alat pendeteksi autisme yang utama. Sebab ia dan rekan-rekannya belum mengetahui kapan seorang anak memperlihatkan respons penciuman yang baik.

"Jadi apakah anak ini memang terlahir dengan kemampuan penciuman seperti itu, atau ini akan berkembang kemudian? Belum ada yang pernah mengeceknya," tutupnya.

Baca juga: Mengecek Kemampuan Bicara Anak Sesuai Usia

(lil/vta)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads