Saat usianya baru dua tahun, Harvey terpaksa kehilangan kedua kaki dan tangannya akibat infeksi serius. Bahkan ginjal Harvey pun harus ikut-ikutan diangkat karenanya. Untungnya salah satu ginjal sang ibu bisa disumbangkan untuknya.
Namun Harvey tak lantas berkecil hati. Oleh dokter, ia diberi kaki dan tangan prostetik sehingga tetap aktif bergerak. Perlahan tapi pasti Harvey juga belajar menggunakan lengan barunya untuk menulis, makan, dan bermain video game.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, Pattie menyerahkan keputusan terkait transplantasi ini sepenuhnya kepada Harvey. "Kalau dia tidak mau, ya tidak kita lakukan," tandasnya kepada Baltimore Sun dan dikutip Kamis (30/7/2015).
Ternyata Harvey berkenan, dan tim dokter memulai proses donor. Mereka memperkirakan hanya ada 15 anak yang cocok mendonorkan pergelangan tangan beserta lengannya dalam kurun setahun, terutama mereka yang memiliki ukuran dan warna kulit yang sama dengan Harvey.
Baca juga: Hendak Memotong Tali Pusar Bayi, Tak Sengaja Malah Mr P yang Terpangkas
Setelah beberapa lama menunggu, diperkirakan pada bulan Juni-Juli tahun ini, Pattie mendapat telepon yang mengabarkan bahwa donor untuk Harvey telah diperoleh sehingga operasi pencangkokan harus segera dilaksanakan.
Prosedur ini akhirnya diselenggarakan di Penn Medicine and Children's Hospital of Philadelphia (CHOP) dan menghabiskan waktu hingga 11 jam. Tak tanggung-tanggung, operasi Harvey melibatkan 40 staf medis, termasuk perawat, dokter dan ahli bedah yang dipimpin Dr L. Scott Levin, kepala departemen bedah ortopedi dari Penn Medicine sekaligus direktur program transplantasi dari rumah sakit tersebut.
Selama prosedur berlangsung, tim bedah dibagi menjadi empat bagian; dua tim terfokus pada tangan donor dan dua tim lainnya bertanggung jawab terhadap kedua tangan Harvey.
Kemudian tulang tangan Harvey yang baru dengan yang lama disambungkan dengan beberapa plat dan sekrup baja. Setelah itu mereka harus menggunakan teknik bedah mikrovaskular untuk menyambungkan arteri dan vena di kedua tangan.
Ketika pembuluh darahnya sudah dipastikan tersambung dan mengalir, barulah tim bedah memperbaiki dan menggabungkan otot, tendon dan saraf-saraf di antara keduanya secara teliti.
"Keberhasilan kami dalam melakukan transplantasi tangan bilateral pertama pada orang dewasa di tahun 2011 telah memberikan dasar bagi kami untuk menggunakan teknik yang rumit ini pada pasien anak," tutur Dr Levin.
Operasi dinyatakan berhasil, meski Harvey sempat mengalami komplikasi, yakni salah satu tangannya berubah warna menjadi putih. Hal ini mengindikasikan adanya gangguan pada peredaran darahnya, namun dengan sigap tim bedah segera kembali ke meja operasi dan memperbaikinya.
Pihak rumah sakit meyakini Harvey merupakan pasien termuda yang mendapatkan transplantasi tangan dobel, mengingat selama ini pasien yang memperoleh prosedur serupa merupakan orang dewasa. Itu pun tercatat hanya sekitar 25 kasus saja di dunia.
Baca juga: Diamputasi, Lautzenheiser Terima Tangan Baru Lewat Operasi Langka
Harvey dianggap sebagai kandidat yang sempurna karena ia telah meminum obat anti-penolakan sejak menjalani cangkok ginjal beberapa waktu lalu. Dan untuk memastikan kedua tangan Harvey tidak mendapatkan penolakan, tim medis juga mengatakan bocah berusia 8 tahun itu harus mengonsumsi obat-obatan yang sama untuk seumur hidupnya.
Di sisi lain, Dr Levin memastikan kedua tangan baru yang kini menempel pada tubuh Harvey akan ikut tumbuh bersamanya. "Ini adalah langkah yang monumental, dan kami berharap dapat membantu lebih banyak lagi pasien seperti Harvey di masa depan," imbuh Dr Levin.
Dalam beberapa minggu ke depan, Harvey masih harus menghabiskan waktunya untuk menjalani terapi okupasional di rumah sakit ini. Kini ia tengah belajar melakukan gerakan-gerakan sederhana seperti mengangkat benda ringan dengan kedua tangan barunya itu.
(lll/ajg)











































