Anak Kena Pengaruh Buruk dari Teman Sebaya, Ini Tips Mengatasinya

Anak Kena Pengaruh Buruk dari Teman Sebaya, Ini Tips Mengatasinya

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Jumat, 07 Agu 2015 19:36 WIB
Anak Kena Pengaruh Buruk dari Teman Sebaya, Ini Tips Mengatasinya
Foto: Thinkstock/nensuria
Jakarta - Anak usia pra-remaja memiliki kebutuhan khusus untuk berteman. Bahkan terkadang, anak lebih mementingkan waktu bersama teman daripada bersama keluarga di rumah.

Karena seringnya waktu yang dihabiskan bersama, tak sedikit orang tua yang jengah karena menganggap anak mendapat pengaruh buruk dari teman sebayanya. Psikolog Vera Itabiliana mengatakan pada kasus seperti ini, orang tua tidak boleh panik dan terburu-buru mengambil keputusan.

Baca juga: Minder, Anak Bisa Lukai Diri Sendiri dan Bunuh Diri

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau panik misalnya dilarang main sama temannya, atau terus menerus dipantau sama orang tua anak malah merasa tak nyaman dan akhirnya bisa berontak. Perlu dilakukan pendekatan khusus, caranya dengan mendekati teman si anak," tutur Vera dalam temu media di Penang Bistro, Jl Pakubuwono, Jakarta Selatan, Jumat (7/8/2015).

Vera mengatakan penting bagi orang tua untuk mengetahui aktivitas apa saja yang dilakukan anak, namun tidak perlu sampai harus mengecek atau menelepon setiap saat. Cukup dengan anak mengenalkan teman bermain dan kegiatan yang dilakukan, orang tua tentunya tidak akan melarang.

Orang tua juga bisa mengajak anak untuk mengundang teman bermain di rumah. Nah, pada saat itu orang tua bisa menjelaskan soal kebiasaan atau perilaku buruk yang dilakukan oleh anak dan temannya.

"Misalnya ketika kaget, bilang 'oh shit!' itu kan tidak baik. Tanya kepada mereka apakah tahu artinya? Jelaskan kalau itu perkataan tidak baik. Ketika teman anak mengerti, anak juga pasti akan ikut berubah," tutur Vera.

Yang tidak boleh dilupakan adalah setiap keluarga tentunya memiliki nilai dan prinsip masing-masing. Anak harus diberi pengertian bahwa tidak semua hal yang dilakukan teman bisa dilakukan oleh dirinya.

"Misalnya ketika melihat teman boleh main game setiap hari, sementara anak kita hanya Sabtu dan Minggu. Harus bisa diberi pengertian soal manfaat dan perbedaannya dengan baik," pungkasnya.

Baca juga: Segudang Manfaat Senyum untuk Anak, Hindari Bullying Hingga Bikin Pede

(mrs/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads