Selasa, 15 Sep 2015 09:05 WIB

Studi: Punya Hewan Peliharaan Bisa Kurangi Alergi pada Anak

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: Randy Faris/Fuse/Thinkstock Foto: Randy Faris/Fuse/Thinkstock
Turku, Finlandia - Peneliti menemukan bayi di rumah tangga yang ada peliharaan berbulu memiliki beberapa jenis bakteri perut yang sama seperti pada hewan. Hal ini menjelaskan mengapa ekspos awal anak terhadap hewan adalah sesuatu yang baik.

dr Merja Nermes dari University of Turku mengatakan banyak orang menganggap hewan peliharaan adalah faktor risiko alergi pada anak. Padahal yang sering terjadi adalah si ibu punya alergi menurun ke anak dan peliharaan lah yang kena batunya.

"Studi epidemiologi telah membuktikan hasil yang sebaliknya dan bahkan menyarankan ekspos sedini mungkin pada anak bisa memberikan perlindungan terhadap alergi, meski memang bagaimana mekanismenya belum diketahui," kata Nermes seperti dikutip dari Reuters pada Selasa (15/9/2015).

Baca juga: Manfaat Ajaib ASI Eksklusif: Cegah Alergi Pada Anak

Studi yang dilakukan Nermes oleh karena itu berusaha menguak bagaimana ekspos hewan peliharaan bisa memengaruhi sistem imun anak. Sebanyak 51 bayi yang di rumahnya ada hewan berbulu dan 64 bayi yang di rumahnya tak ada hewan peliharaan dilibatkan dalam studi.

Peneliti mengambil sampel kotoran dan menemukan ada DNA bakteri B. thermophilum dan B. pseudolongum yang banyak ditemukan pada perut hewan peliharaan. Bayi dengan peliharaan banyak memiliki bakteri ini tapi beberapa bayi tanpa peliharaan juga punya, peneliti mengaku tak tahu dari mana sumber bakteri untuk bayi tanpa peliharaan.

Di usia 6 bulan, bayi-bayi tersebut menjalani pemeriksaan alergi. Hasilnya 19 bayi ternyata memiliki alergi dan tak ada di antara mereka yang memiliki bakteri B. thermophilum di sampel kotorannya.

Studi sebelumnya menyebutkan kekayaan mikrobioma di perut memegang peran memperkuat imunitas seseorang.

"ketika bayi dan hewan peliharaan tinggal serumah melakukan kontak fisik, transfer mikrobiota terjadi. Sebagai contoh ketika anjing menjilat wajah bayi atau tangan, bakteri bisa berpindah ke mulut kemudian ke usus," pungkas Nermes.

Baca juga: Risiko Alergi Anak Berkurang Jika Dot Saat Bayi Diemut Orang Tuanya (fds/up)