Pada orang dengan rabun jauh atau miopi, matanya tak bisa fokus normal sehingga membuat objek yang berada di kejauhan tampak tak fokus. Kondisi ini dikatakan peneliti semakin umum sehingga dipikirkanlah intervensi sedini mungkin yang efektif.
Temuan yang dipublikasi di jurnal Jama ini mendukung bahwa anak-anak perlu menyimbangkan aktivitas fokus jarak dekat seperti membaca dengan aktivitas lain yang memerlukan fokus jarak jauh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Makin Banyak Anak Kena Rabun Jauh, Ilmuwan Bikin Lensa Kontak Khusus
Saat tes dilakukan kurang dari dua persen anak yang memiliki rabun jauh.
Pada akhir studi ditemukan sebanyak 259 dari 853 (30%) anak pada grup intervensi berkembang memiliki rabun jauh sementara pada grup kontrol 287 dari 726 (40%) anak berkembang memiliki rabun jauh. Peneliti mengatakan meski hanya sedikit perbedaannya namun tetap penting apalagi bila faktor lain seperti riwayat keluarga dimasukkan.
"Ini penting secara klinis karena anak kecil yang memiliki miopia dini akan sangat mungkin berkembang menjadi miopia tinggi, yang juga meningkatkan risiko miopia patologis. Oleh karena itu usaha penundaan miopia pada anak yang cenderung akan terus parah dapat memberikan manfaat kesehatan mata jangka panjang," tulis peneliti dalam laporannya seperti dikutip dari BBC pada Rabu (16/9/2015).
Michael Repka dari Johns Hopkins University mengomentari temuan ini dan mengatakan perlu studi lebih lanjut untuk memahaminya lebih dalam. Mungkin anak yang aktif main diluar menjadi jarang terlibat dalam aktivitas fokus jarak dekat atau mungkin terpapar sinar matahari membantu mata tumbuh lebih optimal.
Baca juga: Bagi Pengidap Rabun Mata, Menggunakan Kacamata Adalah Sebuah Kebutuhan (fds/up)











































