Rabu, 28 Okt 2015 20:01 WIB

Ingin Tahu Anak Bohong atau Tidak? Coba Perhatikan Konteks Perkataannya

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Anak-anak bisa saja berbohong atau memang berkata jujur. Namun, karena anak memiliki keterbatasan kosakata, perlu bagi orang tua untuk bisa 'menjadi' seperti si anak dan masuk ke dunia anak.

Diungkapkan pakar deteksi kebohongan, Handoko Gani, MBA, BAII, misalnya pada anak usia 5 tahun. Mereka masih mempelajari kata-kata yang terbatas. Namun, anak sudah memiliki fantasi sehingga orang tua penting untuk masuk ke dunia mereka agar memahami jargon yang mereka gunakan.

"Anak kan suka karakter Captain America atau Power Ranger misal. Dia bilang, semalam lihat Power Ranger ke rumah sebelah bawa TV besar sekali warna putih. Jangan langsung anggap di anak bohong. Tapi pahami konteksnya," tutur Handoko.

Memang, Power Ranger bisa jadi imajinasi anak. Tapi, perhatikan konteks bahwa Captain America yang keluar masuk rumah membawa TV bisa jadi artinya maling. Demikian dikatakan Handoko usai Media Briefing 'Festival Bohong Indonesia 2015' di Hong Kong Cafe, Menteng, Jakarta, Rabu (28/10/2015).

Untuk menilai kebenaran yang diungkapkan anak, orang dewasa perlu masuk ke dunia mereka, pahami bahasa yang digunakan, dan pahami konteksnya. Dalam analisis kebohongan, diungkapkan Handoko terdapat Criteria Based Content Analysis (CBCA).

Baca juga: Anak Suka Coret-coret, Tanda Kreatif?

"Kita lakukan untuk gali pernyataan, bukan berarti memorinya kita abaikan. Pada CBCA ada 19 kriteria. Makin banyak cerita memenuhi 19 kriteria tersebut, lebih kredibel. Di antaranya, ceritanya jelas, lengkap. Lalu detail. Kemudian relevan atau masuk akal," kata Handoko.

"Misal si anak tadi, kalau dia memang nggak ada di teras rumah jam 10 malam dia nggak bakal tahu TV-nya warna apa, power rangernya berapa orang. Setelah kita tahu, ya kita kroscek ke tetangga sebelah. Kan gitu," imbuhnya.

Handoko mengatakan, menilai anak berbohong atau tidak, kurang tepat jika hanya melihat mimiknya saja. Ia pun kurang setuju dengan pernyataan bahwa anak kecil tidak bisa berbohong.

"Nggak benar itu. Menurut riset, manusia belajar bohong sejak usia 2 tahun. Contoh kecilnya, anak diajari terima kasih kalo dikasih makanan, tapi dia ngeles saat nggak bilang terima kasih katanya karena dia nggak suka makanannya. Terus anak nangis, padahal nggak kenapa-kenapa, cuma ingin mengundang perhatian orang tua saja," tutur Handoko.

Baca juga: Punya Anak Disleksia? Jangan Lupa Lakukan Intervensi

(rdn/up)