Hal ini dibuktikan tim peneliti dari UCSF Benioff Children's Hospital, San Fransisco dengan mengamati pola makan 43 partisipan berumur 8-18 tahun yang kesemuanya mengalami obesitas.
Masing-masing dari mereka juga setidaknya memiliki satu masalah metabolisme kronis, seperti tekanan darah tinggi, tingginya kadar kolesterol, dan memperlihatkan gejala-gejala resistensi insulin. Namun peneliti sengaja memilih anak-anak dari ras kulit hitam dan keturunan Latin karena risiko diabetes atau hipertensi mereka lebih besar ketimbang anak dari ras kulit putih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka juga menyediakan makanan dari tepung seperti bagel, sereal dan pasta untuk menggantikan asupan karbohidrat yang biasanya didapat partisipan dari produk makanan manis yang mereka konsumsi selama ini.
Pantangannya hanya satu, partisipan tidak diperkenankan mengasup makanan manis atau mengandung pemanis buatan seperti sereal berpemanis buatan, yogurt, dan berbagai jenis kue.
Baca juga: Tak Disadari, Gula Juga Bisa Bikin Gemuk Lho
Di samping itu, anak-anak ini dipinjami timbangan dan diminta menimbang berat badannya sendiri setiap hari. Bila bobot mereka turun drastis, mereka akan diberi lebih banyak makanan rendah gula agar partisipan bisa menurunkan berat badannya lebih banyak lagi.
9 hari kemudian dilaporkan bahwa total asupan gula partisipan menurun drastis, dari yang semula 28 persen menjadi tinggal 10 persen saja. Tekanan darah diastolik (saat diam) menurun sebanyak 5 mm; dan kadar lemak darah yang biasa disebut trigliserida juga berkurang sebesar 33 poin. Begitu pula dengan LDL atau kadar kolesterol jahat mereka yang 'jatuh' 10 poin.
Gula darah saat tidak makan (fasting blood glucose) juga menurun sebanyak 5 poin, bahkan kadar insulinnya berkurang hingga sepertiga. Fungsi hati juga ikut membaik bila dilihat dari hasil tes yang dilakukan peneliti.
"Kami memang tidak benar-benar bisa memulihkannya, tetapi dalam 10 hari saja, kami bisa mengatasi disfungsi metabolik mereka, tanpa perlu merubah asupan kalori, bahkan tanpa dibarengi perubahan pada berat badan mereka," simpul peneliti, Dr Robert Lustig, ahli endokrinologi anak seperti dikutip dari Telegraph, Jumat (30/10/2015).
Dr Lustig bahkan berani mengatakan temuan ini membuktikan bahwa gula tidak hanya berbahaya bagi metabolisme karena kandungan kalori atau dampaknya terhadap berat badan, tetapi karena gula itu sendiri memang berbahaya.
Sontak pernyataan Dr Lustig ini memicu kritikan pedas dari asosiasi produsen gula atau makanan berpemanis buatan setempat. Namun ia justru berharap percobaannya dapat digelar ulang dengan melibatkan populasi yang lebih besar.
Baca juga: Banyak Dijual, Kenali Perbedaan Aneka Pemanis Tanpa Kalori (lll/up)











































