dr Nastiti Kaswandani, SpA(K), Ketua UKK Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut pneumonia sebagai the forgotten killer atau pembunuh yang terlupakan pada anak-anak. Hal ini didasari oleh kewaspadaan yang kurang terhadap penyakit ini padahal angka kematiannya cukup tinggi.
"Pneumonia ini bisa disebut juga radang paru. Penyakit ini merusak bagian paru-paru yang berfungsi menyerap oksigen, sehingga pasien kekurangan oksigen yang bisa menyebabkan kematian. Angka kematiannya cukup tinggi namun masyarakat belum aware," tutur dr Nastiti, dalam temu media di Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (6/11/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data dari Kemenkes menyebut bahwa berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi pneumonia balita Indonesia adalah 1,85 persen. Pada tahun 2014 saja dilaporkan ada 600.682 kasus pneumonia pada balita, dan 32.025 di antaranya adalah pneumonia berat.
dr Sigit Priohutomo, MPH, Direktur Penyakit Menular Langsung dari Kemenkes mengatakan diperkirakan jumlah kematian balita karena pneumonia per tahun mencapai 19.000 orang. Dengan kata lain, 2-3 balita meninggal setiap jam karena balita. Tak heran pneumonia disebut sebagai penyebab kematian balita nomor satu di Indonesia.
"Di Indonesia sendiri angka kematiannya masih cukup tinggi, yakni 4 per 1.000 balita. Targetnya pada tahun 2025 angka ini turun menjadi kurang dari 3 per 1.000," tutur dr Sigit di kesempatan yang sama.
Bukan tanpa sebab pneumonia menjadi masalah di Indonesia. Beberapa faktor risiko seperti polusi udara, polusi asap rokok, hingga polusi asap asap kebakaran hutan masih marak di Indonesia.
Belum lagi faktor risiko lain seperti tidak mendapat ASI eksklusif, kurang gizi, tidak mendapat imunisasi dan berat badan lahir rendah masih bisa ditemui di pelosok Indonesia. Oleh karena itu dr Sigit mengatakan bertepatan dengan World Pneumonia Day yang jatuh pada tanggal 12 November, kesadaran masyarakat harus lebuh ditingkatkan.
"Pesan kuncinya adalah lindungi balita dari pneumonia dengan ASI eksklusif dan gizi cukup. Juga jauhkan balita dari dapur, apalagi dapur yang menggunakan kayu bakar. Tidak lupa juga untuk menjauhkan anak dari asap rokok," paparnya.
Baca juga: 4 Orang Meninggal di New York City Akibat Wabah Pneumonia Langka
(mrs/vit)










































