Studi baru yang dilakukan peneliti di Maastricht University, Belanda, mencoba mencari tahu apakah anak bisa menjadi saksi mata yang diandalkan. Salah satu peneliti, psikolog forensik Henry Otgar melakukan beberapa percobaan yang membutuhkan keterlibatan peserta sekitar 70-80 persen. Para peserta adalah orang dewasa dan anak usia 4-12 tahun.
Dalam percobaan itu, dilihat kemampuan mengingat memori peserta dewasa dan anak-anak. Salah satunya, mereka diminta menyaksikan tayangan perampokan bank. Setelah itu, mereka ditanyai keterangan yang terlihat dalam klip tersebut di mana seakan-akan peserta adalah saksi mata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Studi: Sering Dihukum Saat Berbohong, Anak Justru Makin Tidak Jujur
Hal ini, lanjut Otgar memungkinkan anak yang lebih tua usianya, atau orang dewasa bertahan dengan apa yang mereka pikirkan dibanding apa yang mereka lihat, sekalipun itu tidak nyata. Pada anak di usia lebih muda, memori palsu yang dimiliki pun lebih fleksibel. Namun, terlepas dari memori palsu pada tiap kelompok umur, peneliti menyimpulkan bahwa anak-anak pun bisa diandalkan seperti orang dewasa dalam bertindak sebagai saksi.
"Hasil penelitian kami sejalan dengan sebagian besar perubahan hasil penelitian yang menyebut kadang-kadang anak di usia lebih muda bisa melakukan hal yang lebih baik daripada anak di usia yang lebih tua, atau orang dewasa," lanjut Otgar.
Pada anak-anak, mereka juga lebih baik dalam membedakan suara-suara aneh dan lebih kreatif untuk menemukan alternatif ketika menggunakan sebuah alat. Menurut Otgar, hal ini bisa terjadi karena di usia anak-anak mereka sedang mendapat banyak paparan pengetahuan dari lingkungan sekitar dan mereka sedang melewati fase eksplorasi.
Baca juga: 'Jujur Bukan Berarti Harus Menyakiti'
(vit/vit)











































