Jumat, 19 Feb 2016 10:37 WIB

Ketika Remaja Mulai Pacaran, Bagaimana Orang Tua Sebaiknya Bersikap?

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Masa pubertas anak-anak dimulai sekitar usia 8-14 tahun. Di masa itu pula, anak-anak mulai tertarik dengan lawan jenis. Sebut saja ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), anak mulai menyatakan keinginannya untuk berpacaran. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua.

Dari sisi psikologi, pacaran tidak masalah asal anak tetap diberi rambu-rambu, demikian diungkapkan psikolog anak dan remaja dari RSAB Harapan Kita, Ade Dian Komala, MPsi saat berbincang dengan detikHealth baru-baru ini.

"Mamanya bisa bilang bawa aja temannya ke rumah. Pacar itu kan teman dekat, suruh anak ngajak teman dekatnya itu ke rumah dan kenalin ke mama atau papanya. Karena sebenarnya pacaran itu (bisa jadi) salah satu tugas perkembangan yang mesti dilewati oleh anak. Oh begini toh berhubungan dengan lawan jenis," tutur Ade.

Namun, orang tua tetap perlu mendampingi yakni dengan memberi rambu-rambu. Bisa juga katakan pada anak bahwa orang tuanya tidak masalah jika dia berteman dekat dengan lawan jenis dan si anak merasa nyaman. Sebab, dengan begitu anak bisa terbuka dengan orang tua.

Perlu juga anak diberi penjelasan tentang rambu yang diterapkan. Misalnya untuk melarang anak tidak berpegangan tangan karena saat berpegangan tangan, pasti anak merasa deg-degan dan itu membuat hormon seksnya meningkat.

Baca jugaSejak Mimpi Basah, Remaja Pria Sudah 'Bahaya' Bagi Lawan Jenis

"Orang tua juga sebaiknya tidak terlalu ketat misalnya anak boleh nonton sama pacarnya tapi harus ada orang tuanya. Kalau kayak gitu orang tua nggak ngasih kepercayaan pada anak, akibatnya anak sembunyi-sembunyi. Mending dia nggak cerita ke mamanya daripada mamanya over memberi aturan kan," lanjut Ade.

Sementara, ketika anak berpacaran dengan cara diam-diam alias backstreet, menurut Ade itu justru berbahaya karena anak tidak mendapat bimbingan atau arahan yang tepat. Meskipun, Ade menekankan keputusan membolehkan atau tidak membolehkan anak berpacaran dikembalikan lagi pada keputusan orang tua berdasarkan nilai-nilai yang ada di tiap keluarga.

"Konotasi pacaran kadang dianggap negatif. Tapi dari sisi psikologi, pacar itu adalah teman dekat lawan jenis. Makanya ketika orang tua membolehkan anak pacaran, tetap diarahkan si anak agar tetap kumpul sama teman yang lain. Apalagi kalau pacarannya sehat, bisa membuat si anak ini jadi lebih baik lagi. Pacaran merupakan salah satu tugas perkembangan anak yakni dekat dengan lawan jenis. Itu sudah masanya, kan hormonnya berubah, jadinya wajar dia tertarik dengan lawan jenis," papar Ade.

Baca jugaRemaja Mulai Tertarik Lawan Jenis? Begini Sebaiknya Ortu Menanggapi

(rdn/vit)