Peneliti Carla Bann dari RTI International Research, North Carolina, Amerika Serikat, mengatakan pada anak-anak di bawah lima tahun, pendidikan dari orang tua merupakan yang terbaik. Namun sebagian besar orang tua dari keluarga miskin tidak melakukannya dengan maksimal karena sibuk bekerja.
"Orang tua yang berasal dari keluarga miskin akan lebih sering bekerja sehingga meninggalkan anak-anak mereka. Hal yang sama juga dilakukan orang tua dari keluarga mampu, bedanya mereka memiliki mainan dan alat stimulasi lain untuk anak-anaknya," tutur Bann, dikutip dari Reuters, Rabu (16/3/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian dilakukan kepada dua kelompok anak-anak berusia di bawah lima tahun, dengan usia ibu rata-rata 25 tahun dan sebagian besar tak mengenyam pendidikan formal. Penelitian dilakukan pada keluarga miskin di tiga negara yakni Pakistan, India dan Zambia.
Hasil penelitian menyebut perkembangan kemampuan kognitif terlihat lebih besar pada anak-anak dari kelompok miskin yang mendapat kunjungan guru ke rumah. Dibandingkan anak-anak dari kelompok keluarga mampu, hasil tes kognitif mereka menunjukkan nilai yang lebih baik.
Peneliti menduga hal ini ada kaitannya dengan sumber daya yang dimiliki orang tua. Ketika ibu dari keluarga miskin pulang ke rumah, mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak untuk mengulang apa yang dilakukan oleh guru.
Dr Benard Dreyer, presiden American Academy of Pediatrics mengatakan kunjungan guru ke rumah dapat mengurangi stres yang dirasakan orang tua. Sebabnya, mereka tak perlu memikirkan stimulasi baru untuk bermain bersama anak.
"Aktivitas yang dilakukan oleh kunjungan guru ke rumah bisa dilakukan kembali oleh orang tua. Hal ini saja dapat menimbulkan perbedaan besar pada kemampuan kognitif anak," papar Dreyer.
Studi ini diterbitkan di jurnal Pediatrics.
Baca juga: Studi: Anak Beranjak Remaja Jadi Masa-masa yang Paling Bikin Ibu Stres
(mrs/vit)











































